Identifikasi Bahasa Anak umur 3 tahun pada naily: analisis psikolinguistik
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bahasa pada anak-anak terkadang sukar diterjemahkan, karena Anak pada umumnya masih menggunakan struktur bahasa yang masih kacau dan masih mengalami tahap transisi dalam berbicara, sehingga sukar untuk dipahami oleh mitratuturnya. Untuk menjadi mitratutur pada anak dan untuk dapat memahami maksud dari pembicaraan anak, mitratutur harus menguasai kondisi atau lingkungan sekitarnya, maksudnya ketika anak kecil berbicara mereka menggunakan media di sekitar mereka untuk menjelaskan maksud yang ingin diungkapkan kepada mitratutrnya di dalam berbicara. Selain menggunakan struktur bahasa yang masih kacau, anak-anak juga cenderung masih menguasai keterbatasan dalam kosakata (leksikon) dan dalam pelafalan fonemnya secara tepat. lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Sehingga hasil bahasa yang diucapkan oleh anak-anak, berdasarkan dari kemampuanya dalam berinteraksi langsung pada bahasa-bahasa yang ada di sekitarnya.
’Pemerolehan bahasa’ yang diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh kanak-kanak mencapai sukses penguasaan yang lancar serta fasih terhadap ’bahasa ibu’ mereka atau yang sering dikenal dengan bahasa yang terbentuk dari lingkungan sekitar. ’Pemerolehan’ tersebut dapat dimaksudkan sebagai pengganti ’belajar’ karena belajar cenderung dipakai psikologi dalam pengertian khusus dari pada yang sering dipakai orang (Tarigan, Guntur; 1986: 248). Dalam hal ini pemerolehan bahasa pada anak akan membawa anak pada kelancaran dan kefasihan anak dalam berbicara.
Rentang umur anak di usia balita umumnya mempunyai kemampuan dalam menyerap sesuatu dan ingatan cenderung lebih cepat dibandingkan usia-usai diatas balita. Sehingga dalam usia-usia tersbut sebaiknya mendapatkan perolehan bahasa yang baik, anak harus selalu dirangsang dengan sesuatu yang bersifat pedagogig atau pendidikan. Pendidikan bahasa pada anak-anak tersebut harus selalu di tingkatkan untuk memperoleh hasil berbicara yang baik.
Dari data penelitian mengenai bahasa anak umur 3 tahun memberi kesimpulan bahwa umumnya anak dalam usia-usia tersebut memiliki semangat dalam berbicara, kemapuan keingintahuannya cenderung lebih besar. misalnya; menceritakan sesuatu yang terjadi di sekelilingnya kepada orang-orang terdekat, berbicara yang bertujuan untuk mendapatkan informasi dari lingkunganya. Anak usia tersebut walaupun mempunyai semangat yang tinggi dalam kompetensi berbicara akan tetapi mereka cenderung masih belum mempunyai kemampuan dalam pengontrolan emosi, sehingga bahasa yang dikeluarkan cenderung mengalami ketersendatan atau yang sering dikenal dengan penyakit gagap dalam berbicara.
Dalam hal ini peran orang tua sebagai fasilitator harus ekstra-aktif dalam pertumbuhan bahasa anak, dengan keaktifan tersebut diharapkan agar anak memperoleh bahasa yang baik dan lancar dalam berbahasa. Adapun dalam penelitian bahasa anak umur tiga tahun ini akan di fokuskan pada Naily dengan menggunakan pendekatan dari cabang linguistik mikro yaitu morfologi, sintaksis, leksikon dan makro yaitu sosiolingistik dan Psikolingistik
B. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi bahasa anak umur 3 tahun
2. Ingin mengetahui sejauh mana ketercapaian berbahasa anak umur 3 tahun yang di fokuskan pada Naily
BAB II
PEMBAHASAN
Pemerolehan bahasa anak dapat secara maksimal diperoleh dari lingkungannya. Sehingga pemerolehan yang maksimal, dapat mempengaruhi out put bahasa yang dikeluarkan dari anak tersebut. Dari perolehan data penelitian, menunjukan bahwa keberhasilan anak umur 3 tahun dalam berbahasa, yang dimaksudkan adalah kefasihan dalam berbicara adalah faktor lingkungan. Adapun cakupan komponen yang termasuk dalam katagori lingkungan adalah peran aktif orang tua, fasilitas pendukung dalam pemerolehan bahasa, orang-orang terdekat dengan anak, misalnya; Baby Sister, kakak, kerabat dan saudara yang usianya di atas anak tersebut.
Seperti yang diungkapan di dalam pendahuluan tentang semangat berbicara pada anak dan rasa keingintahuan akan sesuatu, dapat dilihat dari transkrip rekaman 1 dan 2. pada transkrip rekaman 1 dan 2 ini merupakan satu alur cerita, data tersebut diambil pada waktu siang hari tanggal 14 oktober 2008. Dalam rekaman ini O1 (anak) dan O2 (bapak). O1 menanyakan apa yang sedang dikerjakan oleh bapaknya dengan menggunakan bahasa yang seadanya. Transkrip rekaman ketiga merupakan pembicaraan antara O1 (anak), O2 (Ibu) dan O3 (Peneliti). Dalam pembicaaan tersebut O1 bertanya kepada O2 tentang cara berbelanja, adapun O3 dalam pembicaraan tersebut tidak menjadi titik fokus dalam pembicaraan.
A. Pendekatan Mikro linguistik
• Morfologi
Ditinjau dari pendekatan morfologis dalam pemrolehan bahasa yang dipakai Naily masih belum teratur maksudnya anak tersebut belum bisa menempatkan afiks dalam suatu kata sehingga dalam percakapannya si anak menggunakan kalimat yang mudah dipahami mitratuturnya tanpa menggunakan kata berafiks. Jadi diksi yang digunakan anak tersebut menggunakan diksi yang tidak menggunakan kata berafiks. Banyaknya kata dalam percakapan yang digunakan si anak dengan melesapkan atau menyingkatkan kata tersebut dapat dilihat pada kalimat;
1. Pak baru ngapain to? => ”Bapak sedang apa?”
2. Pak panas gak ini pak? => ”Pak ini panas tidak?”
Beberapa kalimat yang menggunakan kata yang tidak utuh atau mengalami penyingkatan, akan tetapi masih bisa dipahami oleh mitratuturnya. Penggunaan bahasa yang tidak utuh atau mengalami penyingkatan akan dikaji secara spesifik lewat pendekatan sosiolinguistik dan psikolingistik.
• Sintaksis
Pemerolehan bahasa anak dikaji berdasarkan pendekatan Sintaksis. Dari data yang diperoleh penggunaan bahasa pada si anak sudah mulai baik, si anak sudah dapat menempatkan kalimat yang bersifat introgatif, Deklaratif, Imperatif.
Seperti pada beberapa kalimat ini.
3. Pak panas gak yang ini pak?
4. Ais pegang semuanya pak, Panas gak?
Kedua kalimat di atas merupakan kalimat introgatif yang diucapkan si anak, kalimat keempat merupakan ucapan pengulang pada percakapan ketiga pada transkrip rekaman 2. Si anak mengulang kaliamt tersebut dengan maksud untuk memperjelas bahasa yang dikeluarkan dari mulut si anak, karena si anak merasa kalimat yang dikeluarkannya dengan tipe kalimat tanya tersebut tidak sepenuhnya jawaban dari pertanyaannya dijawab oleh O2 yang berstatus sebagai orang tua (bapak).
• Lesikon
Pemeolehan bahasa anak di tinjau dari pendekatan Leksikon atau kosakata. Ada cara yang umumnya diikuti anak dalam mengembangkan leksikonnya. Salah satunya adalah elaborasi makna. Pada mulanya anak memaki kata yang memiliki tingkat generalitas dasar yakni suatu kata yang di satu pihak tidak terlalu tinggi, tetapi tidak juga terlalu rendah atau khusus dalam tangga abstraknya (Soenjono, Unika; 1986: 255-256). Kaitannya dengan pendapat diatas adalah pada bentuk (kalimat 4) yaitu pada kata ”Ais”. ”Ais” merupakan subjek dari (kalimat 4), dan pada (kalimat 4) tersebut merupakan bahasa yang dikeluarkan dari O1 (anak) atau Naily, jadi yang seharusnya subjek dari (kalimat 4) tersebut adalah Naily. Misalnya:
• Ais pegang semuanya pak, Panas gak?
• Naily pegang semuanya pak, panas gak?
Ketika diteliti ternyata nama panjang anak tersebut adalah Naily utammima mafazah. Ternyata tidak ada kaitanya antara nama anak tersebut dengan nama pada subjek (transkrip kalimat 4). Kalimat tersebut ternyata benar kata ”ais” mewakili dari nama O1. Dari Informasi yang didapat ternyata anak tersebut memaknai kata ”Ais” itu adalah ”saya” atau ”aku”, seperti yang diungkapkan soenjono bahwa salah satu cara anak dalam mengembangkan leksikonya adalah elaborasi makna adapun yang dimaksud adalah kemampuan menggeneralisasikan sesuatu, adapun yang menjadi elaborasi pada (kalimat 4) adalah pada kata ”ais” yang dimaknai sebagai ”saya” atau ”aku”. Si anak memperoleh bahasa tersebut dari kakaknya yang bernama faris dan seringkali si anak memanggil kakaknya dengan panggilan Ais, karena ketika pada waktu berbicara si kakak ingin menyesuaikan diri pada si anak tersebut dan si kakak sering menggunakan kata ”ais” sebagai subjek kalimat ketika berbicara pada si anak.
Misalnya:
• Faris : Ais udah makan? ( berbicara pada si anak)
Kaliamt tersebut sengaja di tujukan ke si anak, sehingga secara sepontanitas anak tersebut memaknai kata ”ais” itu adalah ”saya” atau ”aku”.
B. Pendekatan Makro linguistik
Mengkaji melalui sudut pandang pendekatan mikro berbeda dengan pengkajian melalui sudut pandang pendekatan makro. Ketika berbicara cabang linguistik makro identik dengan kata sosiolinguistik dan psikolingistik, karena kedua cabang linguistik ini fakror eksternal dalam pemerolehan bahasa. Adapun sosiolingistik adalah suatu cabang linguistik yang mempelajari tentang sosial dalam berbahasa, baik itu pemerolehanya ataupun dari segi produktifitas dalam berbahasa. Sedangkan psikolingistik adalah suatu cabang lingistik yang mengkaji dari sudut pandang kejiwaan atau emosional dalam berbahasa.
• Sosiolinguistik
Dari transkrip rekaman 1, 2 dan 3 menunjukan bahwa anak tersebut mendapatkan pemerolehan bahasa dari lingkungan yang komunitas berasal dari daerah jawa, sehingga banyaknya kata yang mengandung struktur ataupun kata-kata dalam bahasa jawa, seperti pada kalimat:
(transkrip rekaman 1)
5. Pak baru ngapain to?
(Transkrip rekaman 3)
6. Ma,..mi,.....ma,....... maem dulu ya, la,...la,..la,...lagi ke tempatnya mbak ida ya. Ke tempatnya mbak idanya piye?
7. Mintanya piye?
8. Bu,..bu,...habis itu ke tempatnya mbak ida. Bu,..bu,..bu,.. bu..ais minta jajanan kopikonya ya..?
Transkrip rekaman 1 pada kalimat 5 merupakan kalimat yang strukturnya terinterfensi dari bahasa jawa. Sedangkan transkrip rekaman 3 pada kalimat 6 dan 7 merupakan interfensi kata dalam bahasa jawa yaitu pada kata ”maem ” => makan (dalam tingkatan bahasa jawa yang halus), ”piye” => bagaimana (bahasa jawa dalam tingkatan pergaulan atau ngoko). Pada pendekatan sosiolinguistik juga dikulas tentang pengaruh lingkungan terhadap pemerolehan bahasa pada si anak, seperti pada poin pembahasan pertama adalah peran aktif orang tua, fasilitas-fasilitas pendukung dalam pemerolehan bahasa anak dan orang-orang terdekat si anak yang dimana dapat mempengaruhi bahasa-bahasa yang diperoleh si anak.
Pada pembahasan yang mengkaji lewat pendekatan morfologi ada beberapa hal yang belum terjawab yaitu tentang penggunaan kata tidak utuh atau kata yang mengalami pelesapan yaitu pada kalimat no 1 dan 2, pada kata ”ngapain” dan kata ”gak” ketika melihat kata tersebut dapat disimpulakn bahwa anak tersebut memperoleh bahasa secara mentah dari orang-orang yang berada di sekelilingnya, maksudnya mentah adalah dalam menerima dan memaknai bahasa yang diperoleh dari orang-orang di sekelilingnya. Walaupun sebenarnya dalam tahap-tahap umur seperti itu anak belum mengerti pemakaian bahasa secara sepesifik.
Tidak jarang orang-orang dewasa juga masih banyak yang kesalahan dalam berbahasa Indonesia. Sehingga mengakibatkan kesalahan dalam berbahasa. Dalam hal ini faktor lingkunganlah harus lebih terkontor dalam pemerolehan bahasa anak, yang melalui peran aktif dan berkesinambungan dalam partisipasi untuk menuju pemerolehan bahasa yang baik utnuk si anak.
• Psikolinguistik
Seperti pada pembahasan awal tentang psikolinguistik, psikolinguistik merupakan cabang linguistik yang lebih menekankan dalam segi psikologi dalam berbahasa. transkrip rekaman no.3 pada kaliamt 6 dan kalimat 8 dapat disimpulkan bahwa si anak belum bisa mengontrol emosinya dalam berbicara, sehingga suatu hal yang fatal adalah terjadinya cacat dalam berbicara atau gagap.
• Ma,..mi,.....ma,....... maem dulu ya, la,...la,..la,...lagi ke tempatnya mbak ida ya. Ke tempatnya mbak idanya piye?
• Bu,..bu,...habis itu ke tempatnya mbak ida. Bu,..bu,..bu,.. bu..ais minta jajanan kopikonya ya..?
Pada saat itu si anak sedang bertanya kepada ibunya mengenai cara bertransaksi jual beli walaupun dalam hal ini sudah di transformasikan kebahasa si anak tersebut. Pada kata ”Ma,..mi,...ma,....” ketika itu si anak bermaksud untuk memanggil ibunya denagn sebutan ”Ummie” akan tetapi karena si anak belum bisa mengontrol emosi ketika berbicara sehingga bahasa yang dikeluarkan tersendat-sendat. Dan pada kata ”la,..la,..la,..lagi” yang dimaksudkan si anak tersebut mengucapkan kata ”lagi” dan pada kata ”bu,..bu,...” yanb berarti ibu sama hal seperti pada kata ”lagi” dan ”ummie” kata tersebut mengalami cacat calam berbahasa.
SIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi pemerolehan bahasa pada anak sehingga peran aktif lingkungan yang positif dalam berbahasa akan membawa dampak positif pula pada bahasa si anak. Setelah ditinjau dari beberapa cabang linguistik yang meliputi mikro linguistik dan makro linguistik bahwa bahasa anak pada umur 3 tahun yang berfokus pada Naily adalah pengontrolan atau partisipasi ornag tua dan orang-orang yang sering berinteraksi pada si anak harus lebih di perhatikan karena perkembangan bahasa pada anak dapat ditentukan oleh lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
• Soenjono, Unika. 2000. ECHA Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Grasindo.
• Tarigan, Guntur. 1986. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa.
LAMPIRAN
Transkrip rekaman 1
O1 : Pak baru ngapain to?
O2 : Bapak baru ngapain to ini?
O1 : Pak panas gak ini pak?
O2 :Tak Coba dulu ya?
Transkrip rekaman 2
O1 : Pak panas gak yang ini pak?
O2 : Ya kalau belum ditancapkan belum panas.
O1 : Ais pegang semuanya pak, Panas gak?
O2 : Kalau belum di tancepin listrik ya nggak apa-apa, hena nanti kamu jangan dipegang lo ya,..ya,........
O1 : Pak Yang panas yang mana pak, yang ini, Ais nyoba!
O2 : Udah-udah
Keterangan:
• Identitas O1:
Nama : Naily utammima mafazah
Umur : 3 Tahun (-2 bulan)
Status : Anak
• Identitas O2:
Nama : Syukur
Umur : 44 Tahun
Status: Orang tua (Bapak)
Trankrip rekaman 3
O1 : Ma,..mi,.....ma,....... maem dulu ya, la,...la,..la,...lagi ke tempatnya mbak ida ya. Ke tempatnya mbak idanya piye?
O2: he,..eh
O1 :Bu,..bu,...habis itu ke tempatnya mbak ida. Bu,..bu,..bu,.. bu..ais minta jajanan kopikonya ya..?
O2: Oya he,.eh,......
O1: Lalu Mintanya kopiko nya gimana?
O2: Minta sama bude tohanya no?
O1: Mintanya piye?
O2: Bude minta permennya bude..
O1: Bukan pelmen tapi kopiko
O2:Ya pelmen juga kan kopiko. ya,... Kopiko kan juga permen, ais lupa ya.
O2: Bisa ngak bukanya,..?
O1: Bisa.
O2 : Tak tinju mau ndak.
O2 : Ni lo ir ada apa ne ir,..
O3 : he,..eh,..
O1: Bu endak ada apa-apa no bu!
O2: Nggak ada apa-apa.
Keterangan :
• Identitas O1:
Nama : Naily utammima mafazah
Umur : 3 Tahun (-2 bulan)
Status : Anak
• Identitas O2:
Nama : Nurul hidayati
Umur : 42 Tahun
Status: Orang tua (Ibu)
• Identitas O3
Nama: Irfad Taufiqurobbi
Umur: 20 Tahun
Status: Peneliti
Sabtu, 28 Maret 2009
analisis semiotika pada puisi berjudul gelas karya kuntowijoyo
BAB I
A. Latar Belakang
Puisi adalah karya sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif. Puisi merupakan suatu karya sastra yang Insfiratif yang mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair sehingga setiap kata atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak sehingga memberikan Imaji terhadap pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks. Pada puisi ”gelas” merupakan bentuk Inspirasi dari pengarang yang menceritakan tentang Idealis empirik pengarang. Dari puisi terkadang sering kita rasakan di dalam realitanya, Penyair ”Aku” mendeskripsikan sebuah kenyatan dalam kehidupan manusia, yang mana tertuju pada manusia yang hidup pesimis, memikirkan jauh kedepan yang memndang dengan suatu ketidak brdayaan atau kemampuanya dalam melangkah yang tidak lain hanyalah suatu sikap hidup pesimis, seperti dalam puisi tersebut pengarang hendak menyindir orang-orang yang berperilaku pesimis sehingga ketika itu pada puisi ”Gelas” pada bait pertama pengarang seolah bercerita tentang dirinya yang hendak melakuakn sesuatu akan tetapi sebelum ”aku” melakukan perkerjaan itu, ”aku” sudah membayangkan akan ketidak berhasilannya dalam mengerjakan pekerjaan itu, sehingga menggambarkan keputusasaan, akan tetapi pada bait ke dua dijelaskan bahwa apa yang ”aku” bayangkan tidak sepenuhnya terjadi, bahkan seolah apa yang dipikirkan bertolak belakang dari kenyataanya dan akhirnya ”aku” pun malu terhadap apa yang ia pikirkan atau apa yang dibayangkanya.
B. Landasan Teori
• Sastra sebagai saksi kemanusiaan 1
Keterlibatan seorang penulis terletak dalam kesaksian yang ia berikan atas kemanusiaan. Kesaksian ini telah diungkap secara positf dan negatif, tidak dalam kebisingan Ideologis (complete silence). Panggilan sastra adalah menciptakan kebisuan mutlak ini – kebisuan seseorang yang tahu persisi apa yang dipilih. Oleh karena itu kebisuan tidak sama dengan bungkam atau tak bersuara, kebisuan tidak berarti tidak berbuat apa-apa; sastra menunjukan bahwa kebisuan itu “having an exsistence” sejauh orang melampaui bahasa dan gaya yang tidak lain adalah milik masyarakat (Sunardi. Semiotika Negativa, 13-14 )
Puisi merupakan suatu karya sastra yang kompleks yang mengandung suatu pesan yang disampaikan oleh penyair berdasarkan cerminan realita.
BAB II
• Analisis pendekatan Semiotik
Puisi yang berjudul ”Gelas” seluruh lariknya ditulis dengan bentuk bait, puisi tersebut terdiri dari 2 bait, pada bait pertama terdapat sembilan larik dan bait kedua terdapat lima larik. Pada puisi ini susunan bentuk tampilan fisik atau ketikan pada puisi tersebut di keseluruhan lariknya membentuk sebuah bayangan gelas, hal ini dapat dilihat pada setiap ujung larik pada puisi tersebut dibuat seolah tidak rata, sehingga performance atau tampilan fisik dari puisi tersebut membentuk bayangan gelas. Dan pada dasarnya dalam puisi ini antara larik dengan kalimat didalam puisinya sengaja tidak disusun sama atau kalimat dalam puisi tersebut tidak di bangun membentuk larik, karena hal ini dimungkinkan agar bangunan pada tanpilan fisik tersebut dibuat menyerupai icon bayangan sebuah gelas. Adapun pada puisi ini pada bait pertama merupakan sebuah ungkapan hati ”aku” dengan cara bercerita. Lain halnya dengan bait pertama, pada bait kedua dalam puisi tersebut terdapat sebuah dialog percakapan antara ”aku” dan gadis penjaga dan gadis penjaga pun merespondnya dengan sebuah tindakan yaitu mencium bekas gelas ”aku” atau pada kutipan ” Meninggalkan gelas, lalu gadis penjaga mencium bekas gelas ku?”
Di dalam puisi yang berjudul ”gelas” pengarang hendak menceritakan sesuatu dengan mengilustraasikan apa yang ada didalam pikiranya kedalam puisi tersebut yang mengandung sebuah pesan moral bagi para pembaca. Gambarn-gambaran yang ”aku” ilustarsikan sebnarnya itu hanyalah sebuah bayangan harapan dari keinginan si pengarang. Dengan kecermatan dan ketelitian yang ”aku” lakukan untuk mencapai keinginanya akan tetapi semua itu kosong atau sia-sia karena setiap usaha yang ia lakukan selalu tidak membuahkan sebuah keberhasilan dari keinginanya. adapun dalam puisi tersebut keinginannya untuk menghapus sebuah bekas bibir yang terdapat pada gelas tersebut ”Kuhapus dengan jari pelan-pelan sebagai meraba yang halus, takut ia terkejut.” dan ”Pelan-pelan ku dekatkan ke bibirku”, ”Aneh! Gelas itu selalu menghilang”. Akan tetapi, itu semua hanyalah sebuah perkiraan atau bayangan dari keinginan ”aku”, dan itu semua sungguh diluar bayangan ”aku” karena apa yang ”aku” pikirkan tidak sesuai dengan kenyatanya bahakan dia memperoleh sesuatu yang sangat berharga dari apa yang ”aku” pikirkan.
Isotopi adalah suatu bagian dalam pemaknaan yang menunjukan sebuah pesan adapun untuk dipahami sebagai suatu perlambangan yang utuh. adapun didalam puisi ini terdapat berbagai macam isotopi yakni Isotopi Alam, Isotopi Manusia, Isotopi Perasaan , Isotopi waktu, Isotopi Penghubung, Isotopi Tempat.
Isotopi Alam : Bayangan-bayangan.
Isotopi Manusia : Kukerjakan, mengumpulkan, mengenangkan, bibir lembut, menyentuh, kuhapus, jari pelan-pelan, meraba yang halus, Ia terkejut, jari-jariku, kudekatkan, meninggalkan, Gadis penjaga, mencium, aku, malu, pikiran ini, hatiku.
Isotopi Perasaan : Meraba yang halus, terkejut.
Isotopi waktu : Kembali, selalu, kapan, lalu.
Isotopi Penghubung :Yang, sambil, bahwa, dengan, sebagai, terlalu, selalu, dan,
sesungguhnya, tetapi, biarlah, sebenarnya.
Isotopi Tempat : Gelas, tepinya, kacanya, duduk, dimejanya, bekas gelas.
Lampiran:
Gelas
Kuntowijoyo
Inilah yang kukerjakan. mengumpulkan gelas
kembali. Sambil mengenangkan bahwa bibir
lembut telah menyentuh tepinya. Kuhapus dengan
jari pelan-pelan sebagai meraba yang halus,
takut ia terkejut. Ah, jari-jari ku terlalu
kasar rasanya. Pelan-pelan ku dekatkan ke
bibir ku. Aneh! Gelas itu selalu menghilang.
Kacanya melunak dan mengambur bersama bayang-
bayang. Ia selalu menolakku.
Kapankan kau perkenankan aku duduk di meja.
Meninggalkan gelas lalu gadis penjaga mencium
bekas gelas ku? Aku malu dengan pikiran ini
sesungguhnya, tetapi biarlah sebenarnya
hati ku tak sejelek ini. Engkau tahu, pasti.
Simpulan
Puisi ”Gelas” karya Kuntowijoyo termasuk jenis puisi Elgi, dimana puisi tersebut menceritakan tentang dirinya sekaligus menyimpan pesan yang hendak disampaikan pada pembaca lewat puisinya tersebut. Dalam Analisis puisi ini sengaja saya mengkaji dengan analisis pendekatan Semiotika, karena dalam hal ini pendekatan semiotika dinilai absolut dalam memahami sistem tanda. semiotika merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang tanda sehingga dalam analisis puisi tersebut hanya merupakan penjabaran yang ditafsirkan melalui pendekatan semiotika.
Daftar pustka
Sunardi. 2002. Semiotika Nafigatif. Yogyakarta: Kanal, tukangan DN II.
A. Latar Belakang
Puisi adalah karya sastra yang kompleks pada setiap lariknya mempunyai makna yang dapat ditafsirkan secara denotatif atau pun konotatif. Puisi merupakan suatu karya sastra yang Insfiratif yang mewakili makna yang tersirat dari ungkapan batin seorang penyair sehingga setiap kata atau kalimat tersebut secara tidak langsung mempunyai makna yang abstrak sehingga memberikan Imaji terhadap pembaca. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat membentuk suatu bayangan khayalan bagi pembaca, sehingga memberikan makna yang sangat kompleks. Pada puisi ”gelas” merupakan bentuk Inspirasi dari pengarang yang menceritakan tentang Idealis empirik pengarang. Dari puisi terkadang sering kita rasakan di dalam realitanya, Penyair ”Aku” mendeskripsikan sebuah kenyatan dalam kehidupan manusia, yang mana tertuju pada manusia yang hidup pesimis, memikirkan jauh kedepan yang memndang dengan suatu ketidak brdayaan atau kemampuanya dalam melangkah yang tidak lain hanyalah suatu sikap hidup pesimis, seperti dalam puisi tersebut pengarang hendak menyindir orang-orang yang berperilaku pesimis sehingga ketika itu pada puisi ”Gelas” pada bait pertama pengarang seolah bercerita tentang dirinya yang hendak melakuakn sesuatu akan tetapi sebelum ”aku” melakukan perkerjaan itu, ”aku” sudah membayangkan akan ketidak berhasilannya dalam mengerjakan pekerjaan itu, sehingga menggambarkan keputusasaan, akan tetapi pada bait ke dua dijelaskan bahwa apa yang ”aku” bayangkan tidak sepenuhnya terjadi, bahkan seolah apa yang dipikirkan bertolak belakang dari kenyataanya dan akhirnya ”aku” pun malu terhadap apa yang ia pikirkan atau apa yang dibayangkanya.
B. Landasan Teori
• Sastra sebagai saksi kemanusiaan 1
Keterlibatan seorang penulis terletak dalam kesaksian yang ia berikan atas kemanusiaan. Kesaksian ini telah diungkap secara positf dan negatif, tidak dalam kebisingan Ideologis (complete silence). Panggilan sastra adalah menciptakan kebisuan mutlak ini – kebisuan seseorang yang tahu persisi apa yang dipilih. Oleh karena itu kebisuan tidak sama dengan bungkam atau tak bersuara, kebisuan tidak berarti tidak berbuat apa-apa; sastra menunjukan bahwa kebisuan itu “having an exsistence” sejauh orang melampaui bahasa dan gaya yang tidak lain adalah milik masyarakat (Sunardi. Semiotika Negativa, 13-14 )
Puisi merupakan suatu karya sastra yang kompleks yang mengandung suatu pesan yang disampaikan oleh penyair berdasarkan cerminan realita.
BAB II
• Analisis pendekatan Semiotik
Puisi yang berjudul ”Gelas” seluruh lariknya ditulis dengan bentuk bait, puisi tersebut terdiri dari 2 bait, pada bait pertama terdapat sembilan larik dan bait kedua terdapat lima larik. Pada puisi ini susunan bentuk tampilan fisik atau ketikan pada puisi tersebut di keseluruhan lariknya membentuk sebuah bayangan gelas, hal ini dapat dilihat pada setiap ujung larik pada puisi tersebut dibuat seolah tidak rata, sehingga performance atau tampilan fisik dari puisi tersebut membentuk bayangan gelas. Dan pada dasarnya dalam puisi ini antara larik dengan kalimat didalam puisinya sengaja tidak disusun sama atau kalimat dalam puisi tersebut tidak di bangun membentuk larik, karena hal ini dimungkinkan agar bangunan pada tanpilan fisik tersebut dibuat menyerupai icon bayangan sebuah gelas. Adapun pada puisi ini pada bait pertama merupakan sebuah ungkapan hati ”aku” dengan cara bercerita. Lain halnya dengan bait pertama, pada bait kedua dalam puisi tersebut terdapat sebuah dialog percakapan antara ”aku” dan gadis penjaga dan gadis penjaga pun merespondnya dengan sebuah tindakan yaitu mencium bekas gelas ”aku” atau pada kutipan ” Meninggalkan gelas, lalu gadis penjaga mencium bekas gelas ku?”
Di dalam puisi yang berjudul ”gelas” pengarang hendak menceritakan sesuatu dengan mengilustraasikan apa yang ada didalam pikiranya kedalam puisi tersebut yang mengandung sebuah pesan moral bagi para pembaca. Gambarn-gambaran yang ”aku” ilustarsikan sebnarnya itu hanyalah sebuah bayangan harapan dari keinginan si pengarang. Dengan kecermatan dan ketelitian yang ”aku” lakukan untuk mencapai keinginanya akan tetapi semua itu kosong atau sia-sia karena setiap usaha yang ia lakukan selalu tidak membuahkan sebuah keberhasilan dari keinginanya. adapun dalam puisi tersebut keinginannya untuk menghapus sebuah bekas bibir yang terdapat pada gelas tersebut ”Kuhapus dengan jari pelan-pelan sebagai meraba yang halus, takut ia terkejut.” dan ”Pelan-pelan ku dekatkan ke bibirku”, ”Aneh! Gelas itu selalu menghilang”. Akan tetapi, itu semua hanyalah sebuah perkiraan atau bayangan dari keinginan ”aku”, dan itu semua sungguh diluar bayangan ”aku” karena apa yang ”aku” pikirkan tidak sesuai dengan kenyatanya bahakan dia memperoleh sesuatu yang sangat berharga dari apa yang ”aku” pikirkan.
Isotopi adalah suatu bagian dalam pemaknaan yang menunjukan sebuah pesan adapun untuk dipahami sebagai suatu perlambangan yang utuh. adapun didalam puisi ini terdapat berbagai macam isotopi yakni Isotopi Alam, Isotopi Manusia, Isotopi Perasaan , Isotopi waktu, Isotopi Penghubung, Isotopi Tempat.
Isotopi Alam : Bayangan-bayangan.
Isotopi Manusia : Kukerjakan, mengumpulkan, mengenangkan, bibir lembut, menyentuh, kuhapus, jari pelan-pelan, meraba yang halus, Ia terkejut, jari-jariku, kudekatkan, meninggalkan, Gadis penjaga, mencium, aku, malu, pikiran ini, hatiku.
Isotopi Perasaan : Meraba yang halus, terkejut.
Isotopi waktu : Kembali, selalu, kapan, lalu.
Isotopi Penghubung :Yang, sambil, bahwa, dengan, sebagai, terlalu, selalu, dan,
sesungguhnya, tetapi, biarlah, sebenarnya.
Isotopi Tempat : Gelas, tepinya, kacanya, duduk, dimejanya, bekas gelas.
Lampiran:
Gelas
Kuntowijoyo
Inilah yang kukerjakan. mengumpulkan gelas
kembali. Sambil mengenangkan bahwa bibir
lembut telah menyentuh tepinya. Kuhapus dengan
jari pelan-pelan sebagai meraba yang halus,
takut ia terkejut. Ah, jari-jari ku terlalu
kasar rasanya. Pelan-pelan ku dekatkan ke
bibir ku. Aneh! Gelas itu selalu menghilang.
Kacanya melunak dan mengambur bersama bayang-
bayang. Ia selalu menolakku.
Kapankan kau perkenankan aku duduk di meja.
Meninggalkan gelas lalu gadis penjaga mencium
bekas gelas ku? Aku malu dengan pikiran ini
sesungguhnya, tetapi biarlah sebenarnya
hati ku tak sejelek ini. Engkau tahu, pasti.
Simpulan
Puisi ”Gelas” karya Kuntowijoyo termasuk jenis puisi Elgi, dimana puisi tersebut menceritakan tentang dirinya sekaligus menyimpan pesan yang hendak disampaikan pada pembaca lewat puisinya tersebut. Dalam Analisis puisi ini sengaja saya mengkaji dengan analisis pendekatan Semiotika, karena dalam hal ini pendekatan semiotika dinilai absolut dalam memahami sistem tanda. semiotika merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang tanda sehingga dalam analisis puisi tersebut hanya merupakan penjabaran yang ditafsirkan melalui pendekatan semiotika.
Daftar pustka
Sunardi. 2002. Semiotika Nafigatif. Yogyakarta: Kanal, tukangan DN II.
Rabu, 11 Maret 2009
puisi sosial
Menyambut keajaiban masa 2009
Ketika waktu sibuk dalam perjalanannya.
Berputar tanpa tujuan dengan lingkaran yang sama
Menepi tanpa ada yang mencari
Mencari namun hanya sekali
Dan itu pun bagi yang mengerti?
Kini tiba diperbatasan waktu
Namun itu bukan yang pertama
Dan bukan pula yang terakhir
Menyambut kegembiraan dengan canda dan tawa yang diselimuti doa
Menyongsong masa depan yang indah bagai fatamorgana
Masa depan 2009,................
Masa depan dengan keoptimisaan
Masa 2009,...........................
Masa dengan kebangkitan
Masa 2009,.....................
Masa dengan keajaiban
Masa 2009,.......................
Masa dengan semangat doa dan kurniah yang terpancar bak mentari pagi
Masa 2009,.....................
Melangkah kedepan menuju keajaiban masa
Masa 2009,....................
Bangkit bersama menuju puncak kejayaan yang penuh tantangan.
Nama : Irfad Taufiqurobbi
Fak.KIP PBSID (Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah)
UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Ketika waktu sibuk dalam perjalanannya.
Berputar tanpa tujuan dengan lingkaran yang sama
Menepi tanpa ada yang mencari
Mencari namun hanya sekali
Dan itu pun bagi yang mengerti?
Kini tiba diperbatasan waktu
Namun itu bukan yang pertama
Dan bukan pula yang terakhir
Menyambut kegembiraan dengan canda dan tawa yang diselimuti doa
Menyongsong masa depan yang indah bagai fatamorgana
Masa depan 2009,................
Masa depan dengan keoptimisaan
Masa 2009,...........................
Masa dengan kebangkitan
Masa 2009,.....................
Masa dengan keajaiban
Masa 2009,.......................
Masa dengan semangat doa dan kurniah yang terpancar bak mentari pagi
Masa 2009,.....................
Melangkah kedepan menuju keajaiban masa
Masa 2009,....................
Bangkit bersama menuju puncak kejayaan yang penuh tantangan.
Nama : Irfad Taufiqurobbi
Fak.KIP PBSID (Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah)
UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta)
lagu ku
BUKAN FATAMORGANA
Am Dm
Ketika terbangun dari tidurku
G C Am
Seluruh dinding terasa hampa
Am Dm
Dan waktu pun kini enggan melangkah
G C Am
Seperti halnya manusia kehilangan nyawa
Dm G
Serupa dan seirama
(#)
F
Tanpa bunyi
G
Tanpa suara
F
Tanpa gelak tawa
G C
Tanpa segalanya kehilangan nyawa
Reff:
C Am G F
Apa yang terjadi dan kini waktu pun kembali bernafas
G C
Hingga senja pun mulai menyapa
C Am G F
Tetes embun malam itu tampak jelas di kamar ku
G C
Aku sadar dia bukan fatamorgana
Cipt: irfad
Am Dm
Ketika terbangun dari tidurku
G C Am
Seluruh dinding terasa hampa
Am Dm
Dan waktu pun kini enggan melangkah
G C Am
Seperti halnya manusia kehilangan nyawa
Dm G
Serupa dan seirama
(#)
F
Tanpa bunyi
G
Tanpa suara
F
Tanpa gelak tawa
G C
Tanpa segalanya kehilangan nyawa
Reff:
C Am G F
Apa yang terjadi dan kini waktu pun kembali bernafas
G C
Hingga senja pun mulai menyapa
C Am G F
Tetes embun malam itu tampak jelas di kamar ku
G C
Aku sadar dia bukan fatamorgana
Cipt: irfad
lagu ku
cinta tanpa kehadiran mu
Intro:
E 3X
Em C G D
Em C
Deru langkah ku
G D Em C G D
terlukis indah senyuman mu
Em C
Menatamu jauh
G D Em C G D
tergores harapan ingin bertemu
Em C
mellihat bayang mu
G D Em C G D
sejauh kenyataan di dalam hidup ku
Em C
kata manismu
G D Em C G D
terukir indah di dalam benak hatiku
#
C G D
Apakah dengan ketulusan cinta kasihku ini
C G
Akan kau biarkan cahaya cinta
C D
Yang aku ciptakan akhirnya memudar
Reff:
Em C G D
Aku hadir tanpa belayan mu
Em C G D
Kata manismu bagai gemuruh angin lalu
Em C G D Em C G D
Kepastian ku menjadi momok keraguan bagi dirimu
Em C G D 3x
Kembali (#)
Cipt: Irfad
Penantian Di sudut malam
Intro:
C
C G Am F G
Di sudut malam yang sunyi
C G Am F G
Menanti sinar rembulan purnama yang datang
C G Am G
Termangu menatap imajinasi yang terukir
C G Am G
Sendiri duduk di hamparan hehijauan
(#)
F G C Am
Elok rupawan yang terabaikan
F G
Mimpi yang menjelmah di sudut malam
Reff::
C Am
Menanti datangnya rembulan
F G
yang datang membawa senyuman
Intro:
C G Am F G 3x
Kembali (#)
Cipt: Irfad
Intro:
E 3X
Em C G D
Em C
Deru langkah ku
G D Em C G D
terlukis indah senyuman mu
Em C
Menatamu jauh
G D Em C G D
tergores harapan ingin bertemu
Em C
mellihat bayang mu
G D Em C G D
sejauh kenyataan di dalam hidup ku
Em C
kata manismu
G D Em C G D
terukir indah di dalam benak hatiku
#
C G D
Apakah dengan ketulusan cinta kasihku ini
C G
Akan kau biarkan cahaya cinta
C D
Yang aku ciptakan akhirnya memudar
Reff:
Em C G D
Aku hadir tanpa belayan mu
Em C G D
Kata manismu bagai gemuruh angin lalu
Em C G D Em C G D
Kepastian ku menjadi momok keraguan bagi dirimu
Em C G D 3x
Kembali (#)
Cipt: Irfad
Penantian Di sudut malam
Intro:
C
C G Am F G
Di sudut malam yang sunyi
C G Am F G
Menanti sinar rembulan purnama yang datang
C G Am G
Termangu menatap imajinasi yang terukir
C G Am G
Sendiri duduk di hamparan hehijauan
(#)
F G C Am
Elok rupawan yang terabaikan
F G
Mimpi yang menjelmah di sudut malam
Reff::
C Am
Menanti datangnya rembulan
F G
yang datang membawa senyuman
Intro:
C G Am F G 3x
Kembali (#)
Cipt: Irfad
Selasa, 10 Maret 2009
cerpen cinta
Karisma rembulan “menati rembulan di sudut malam” series
Season: 2
kring,…kring,…… huuUUuuaffff,…pagi itu udara pagi sangatlah tidak bersahabat, angin yang bercampur embun menjadi satu seolah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan dan membahayakan tubuh ketika bersentuhan olehnya. HuaAhh,… Alhamdullilah,… akhirnya aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia, bagi ku ketika tidur dalam keadaan capek dan ngantuk, itu sungguh merupakan suatu kenikmatan yang sangat indah. Pagi itu menunjukan pukul 05.00 aku sangat bahagia karena dengan kerja sama yang aku ciptakan dengan benda kecil dan lucu yang selalu menemaniku di saat aku sendiri dan selalu mengingatkan ku akan jadwal-jadwal keseharian ku yang begitu padat sehingga membuat aku terlahir menjadi orang yang dapat menghargai waktu. Benda kecil dan lucu tersebut adalah telepon genggam yang aku peroleh dari orang tua ku, walaupun tidak begitu bagus tapi aku merasa bersyukur mempunyai benda itu, karena aku mengerti sesuatu hal yang baik belum tentu membawa kebaikan kalau dari personalnya tidak mempunyai niat akan kebaikan untuk memanfaatkannya, akan tetapi sesuatu yang tidak begitu baik dapat menjadi sangat baik ketika dari personalnya mempunyai suatu niatan yang baik dalam dirinya akan pemanfaatanya.
Pagi yang sangat indah menunjukan pukul 05.00 dimana azan subuh berkumandang di setiap sudut masjid yang seolah memberitahukan bahwa “bahagiahlah kalian yang dapat bangun hari ini dan dapat melanjutkan hari ini untuk kalian manfaatkan dengan suatu hal yang baik” karena ada di antara kita yang tidak dapat melanjutkan hari-hari esok dan terlanjur menikmati aktifitas tidurnya untuk selamanya. Maka bahagialah kita yang masih bisa merasakan nikmat melangkah hari esok dengan berjuta masalah dan kebahgiaan. Setelah bangun dari tidurku, aku bergegas untuk keluar dari kamar yang seolah menjadi surga para setan yang menyelimutiku dari kedinginan dan menidurkan ku hingga terlelap dari kegelisahan yang selalu aku dapatkan ketika aku memulai tidurku di saat malam tiba dan sosok angin pagi yang menjelmah menjadi suara merdu bagaikan lirik syair perindu pengantar tidurku. Setelah melewati berbagai macam perkelahian melawan kenikmatan dunia yang fatamorgana, akhirnya. huUUuf,.. Subhanallah ternyata aku bisa melewati pertempuran dengan seribu setan yang ada di kamar ku hanya untuk meloloskan diri dari bujuk rayu setan yang lebih mengajak aku untuk kembali menikmati kasur empuk dan kehangatan yang alami dari selimut bulu yang selalu menemani tidur ku. Langkah kaki ku telah sampai ke arah keran pancuran dekat sumur yang ketika dibuka airnya dapat memberikan kesejukan hati dan memberikan kekuatan untuk melangkah menuju kehidupan yang sangat indah dan bermakna. Setelah sahlat aku pun berniat untuk melangkahkan kakiku ke luar rumah untuk menghirup udara pagi yang begitu sejuk dan dimana aku bisa melihat matahari yang sungguh indah dan tampak malu menunjukan keindahan sinarnya. Aktifitas ini sudah rutin aku kerjakan selain untuk memanjakan pikiran dari penat aktifitas yang kemarin belum terselesaikan ataupun yang masih menjadi inspirasiku untuk merencanakan hari esok ku. Satu hal yang paling aku sukai dalam hidup ini yaitu bermimpi atau merencanakan hari esok ku dengan sangat matang sehingga setiap hari yang aku lalui menjadi terarah walaupun terkadang ada hal-hal yang menjadi mimpi itu belum terwujud, tapi aku bahagiah karena aku dapat mengatur hidup ku dengan sangat menyenangkan. Untuk pagi ini rute yang aku ambil pada jalan-jalan pagi kali ini tidak seperti biasanya karena seluruh bagian tubuh ku masih terasa capek. Maklum 2 hari yang lalu aku baru sampai di kota yang menurut ku sudah menjadi kota kedua di dalam hidupku, maklum setelah lama aku memanjakaan diri di kampung halaman, akhirnya aku kembali ke kota kedua ku untuk melanjutkan pendidikan yang telah sekitar tiga tahun ini aku melewatkan suka dan duka ku di kota ini. Sungguh liburan yang sangat menyenagkan akhirnya selama dua kali lebaran tidak pulang akhirnya lebaran idul fitri kemarin aku kembali bersama keluargaku yang sangat aku sayangi merayakan hari raya idul fitri, dan yang paling berkesan adalah ketika bertemu dengan sahabat-sahabatku yang belakangan ini tidak lagi ku jumapai. Adapun setelah sampai di kota kedua ku ini akupun tidak sempat istirahat, karena aku ikut membantu familiy yang pada saat itu mengadakan acara pesta pernikahan. Walaupun badan terasa capek dan mata terasa mau copot dan di bagian bawah kelopak mata tampak pelangi yang telah kehilangan warna kecerahnya dan menimbulkan efek 1 warna yang tidak seperti pelangi-pelangi pada umumnya, akan tetapi hatiku tetap merasa senang karena sewaktu diperjalanan kembali ke kota kedua ku ini aku pun bertemu seorang yang selalu dapat membuat ku tersenyum hingga sampai sekarang ini kalau dianlalogikan mungkin dia seperti bidadari surga yang seperti di idam-idamkan para lelaki yang merindukan bidadari surga di dalam mimpinya dan doanya. Bibirkupun masih mengatup-ngatup seperti ikan yang terkait mata pancing oleh seorang nelayan dan hati ku pun terus bernyanyi senandung pujian-pujian merindu dan detak jantung ku seperti dentuman bass drum aliran musik metalika. Tak terasa langka kakiku pun hampir sampai menuju rumah besar dengan halaman yang dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang sangat rindang. Rumah itu merupakan kos-kosan yang telah dua tahun ini aku tempati. Rumah besar itu terdapat sejumlah kamar-kamar yang disekat dan dikelilingi suasana natural alam yang sangat terjaga keasriannya. Setiap tapak aku melangkahkan kaki ku dan tak bosan-bosanya aku memikiran wajah manis itu. Pikiran kumelayang dan masih selalu tertuju pada senyuman manis yang ketika itu pada pertemuan pertama dengannya aku mencoba untuk melihat indah wajahnya. Ketika itu dirinya menatap ku dengan tatapan mata yang sungguh mengisyaratkan penantian dan jutaan harapan yang sangat alami. Senyuman manis yang ia layangkan pada diriku sungguh senyuman yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. oOooohhh,…. Sungguh indahnya jika mengingat semua hal itu, apalagi mengingat ketika aku memegang lembut tangannya, seakan hanya dialah bidadari yang selama ini aku cari dari dalam mimpiku dan doaku.
Oktober telah berlalu dan berarti sudah 1 bulan aku menjalani hubungan dengan bidadari ku walaupun hanya lewat pesan singkat dan suara lembut lewat perantara telepon genggam, akan tetapi isyarat hatiku pun merasakan bahwa dia adalah seorang yang dapat membuat hatiku terbang menembus atmosfer dan mengelilingi pelanet-pelanet dan melayang diantara pelanet-planet kecil di angkasa. Sungguh menakjubkan, kekuatan cinta dapat merobohkan akal sehat, dapat membuat mati jasad yang hidup, dapat menyembuhkan sakit fisik dan mental, dapat memberikan motivasi dan inspirasi baru dalam melangkah hidup ini. Itulah yang aku rasakan sekarang. Memang ketika membicarakan masalah cinta tidak ada habisnya. Cinta,…cinta,.. cinta,…. Sesungguhnya kata ini sering dibicarakan orang-orang. Baik itu pengertiannya, ruang lingkupnya dan seperti apa wujud cinta itu? Sebenarnya apa sih cinta itu? Apa cinta itu seperti makanan? yang ketika lapar terasa enak dan sangat nikmat. Dan ketika kenyang kenikmatan itu akan hilang dengan sendirnya? Kalau begitu cinta merupakan sesuatu yang dapat kita rasakan sekejap dan akan hilang dimakan waktu dan usia ketika apa yang kita rasakan hilang? Kalau begitu sungguh kejam kalau ada yang mempunyai pendapat yang seperti itu tentang cinta. Menurut aku cinta itu indah, pahit, kejam, senang, bahagiah, kesedihan, motifasi, inspirasi dan misteri. Berbagai macam rasa menjadi satu yang menciptakan suatu daya, kekuatan yang terkonstruksi di dalam hati dan sulit untuk dideskripsikan dengan tulisan, lisan dan lukisan.
Begitulah cinta yang begitu besar terkonstruksi di dalam hati ku yang membentuk dan mengukir sebuah nama yang hanya aku sendiri yang dapat melihat dan merasakan suka, duka, manis, pahit, bahagia, sedih di dalam diriku sendiri. 1 bulan telah berlalu setelah pertemuan dengan dirinya, selama itu akupun sering mencoba meraba-raba akan kepribadianya untuk mendekatkan emosionalnya, ya menurut ku hanya dengan jalan ini seseorang dapat menjalin hubungan yang sangat erat dan terjaga ketika hubungan emosionalnya ikut terjaga, dan semua itu dapat terjaga jika komunikasi, keterbukaan dan rasa saling percaya akan keduanya. Mungkin itu salah satu resep ampuh untuk menjaga hubungan keharmonisan. Dan aku masih sangat ingat ketika di malam yang cukup sunyi hati ku sepontan terus berbisik lirih dengan selalu menyebut namanya, jantungku sepontan meledak tak tertahankan dan pikiran ini menjelmah menjadi sosok proyektor yang menciptakan sosok gambar nyata walaupun hanya berupa hologram yaitu dirinya. Mataku terpejam oleh kenikmatan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, tangan ku terasa tak berdaya karena getaran yang sangat hebat sehingga untuk memegang benda-benda di seklilingku tak dapat aku gapai. Ku coba untuk kembali tenang, menghirup udara panjang dan mencoba untuk menenagkan semua anggota tubuh ku. 5 menit telah berlalu. Dan aku pun mengambil sebuah telepon genggam ku dan menulis sebuah sms “ehm,… kenapa ya me, ko hari ini aku rasanya ada sedikit yang mengganjal di hatiku? Gimana kalau ganjelan itu aku lepas aja? Bissmilahirahmanirahim,….’ume aku sayang kamu’ ” Alhamdullilah akhirnya yang menjadi isyarat hati yang terpendam selama jutaan tahun akhirnya terbebaskan. Duuhhh,..suatu hal yang paling menyenangkan dalam dunia asmara adalah ketika mengungkapkan suatu perasaan yang telah lama terpendam akan tetapi tak ada daya untuk melepaskan isyarat hati itu. Mungkin kalau saya analogikan seperti sebuah fosil yang selama jutaan tahun terkubur dari gelapnya timbuanan tanah yang sekejap akan lebih bermakna ketika terkubur selama jutaan tahun dan ketika fosil itu keluar menjadi sesuatu yang sangat istimewa dan bermakna dan menjadi suatu saksi waktu dalam keindahan sejarah di masa lalu. kRing,…krIng,…. Tersentak akupun membuyarkan semua khayalan ku karena mendengar bunyi telepon genggam ku berbunyi, ku lihat di layar tertulis “panggilan ‘uMe’ ” ume merupakan panggilan yang dapat lebih mendekatkan hubungan emosional di antara kami berdua, kalau di bilang alasanya kenapa aku memberikan sebuah nama itu? Alasan pertama adalah aku ingin lebih mendewasakan dia dan ingin menyayanginya lebih dari diriku sendiri. Dan alasan yang kedua adalah karena memang nama itu secara sepontan telah terukir untuknya di dalam hati ku untuk selamanya walaupun dia sendiri terkadang belum bisa menafsirkan sebuah hati yang sebenarnya tulus mencintainya.
Bersambung,…….
Season: 2
kring,…kring,…… huuUUuuaffff,…pagi itu udara pagi sangatlah tidak bersahabat, angin yang bercampur embun menjadi satu seolah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan dan membahayakan tubuh ketika bersentuhan olehnya. HuaAhh,… Alhamdullilah,… akhirnya aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya surga dunia, bagi ku ketika tidur dalam keadaan capek dan ngantuk, itu sungguh merupakan suatu kenikmatan yang sangat indah. Pagi itu menunjukan pukul 05.00 aku sangat bahagia karena dengan kerja sama yang aku ciptakan dengan benda kecil dan lucu yang selalu menemaniku di saat aku sendiri dan selalu mengingatkan ku akan jadwal-jadwal keseharian ku yang begitu padat sehingga membuat aku terlahir menjadi orang yang dapat menghargai waktu. Benda kecil dan lucu tersebut adalah telepon genggam yang aku peroleh dari orang tua ku, walaupun tidak begitu bagus tapi aku merasa bersyukur mempunyai benda itu, karena aku mengerti sesuatu hal yang baik belum tentu membawa kebaikan kalau dari personalnya tidak mempunyai niat akan kebaikan untuk memanfaatkannya, akan tetapi sesuatu yang tidak begitu baik dapat menjadi sangat baik ketika dari personalnya mempunyai suatu niatan yang baik dalam dirinya akan pemanfaatanya.
Pagi yang sangat indah menunjukan pukul 05.00 dimana azan subuh berkumandang di setiap sudut masjid yang seolah memberitahukan bahwa “bahagiahlah kalian yang dapat bangun hari ini dan dapat melanjutkan hari ini untuk kalian manfaatkan dengan suatu hal yang baik” karena ada di antara kita yang tidak dapat melanjutkan hari-hari esok dan terlanjur menikmati aktifitas tidurnya untuk selamanya. Maka bahagialah kita yang masih bisa merasakan nikmat melangkah hari esok dengan berjuta masalah dan kebahgiaan. Setelah bangun dari tidurku, aku bergegas untuk keluar dari kamar yang seolah menjadi surga para setan yang menyelimutiku dari kedinginan dan menidurkan ku hingga terlelap dari kegelisahan yang selalu aku dapatkan ketika aku memulai tidurku di saat malam tiba dan sosok angin pagi yang menjelmah menjadi suara merdu bagaikan lirik syair perindu pengantar tidurku. Setelah melewati berbagai macam perkelahian melawan kenikmatan dunia yang fatamorgana, akhirnya. huUUuf,.. Subhanallah ternyata aku bisa melewati pertempuran dengan seribu setan yang ada di kamar ku hanya untuk meloloskan diri dari bujuk rayu setan yang lebih mengajak aku untuk kembali menikmati kasur empuk dan kehangatan yang alami dari selimut bulu yang selalu menemani tidur ku. Langkah kaki ku telah sampai ke arah keran pancuran dekat sumur yang ketika dibuka airnya dapat memberikan kesejukan hati dan memberikan kekuatan untuk melangkah menuju kehidupan yang sangat indah dan bermakna. Setelah sahlat aku pun berniat untuk melangkahkan kakiku ke luar rumah untuk menghirup udara pagi yang begitu sejuk dan dimana aku bisa melihat matahari yang sungguh indah dan tampak malu menunjukan keindahan sinarnya. Aktifitas ini sudah rutin aku kerjakan selain untuk memanjakan pikiran dari penat aktifitas yang kemarin belum terselesaikan ataupun yang masih menjadi inspirasiku untuk merencanakan hari esok ku. Satu hal yang paling aku sukai dalam hidup ini yaitu bermimpi atau merencanakan hari esok ku dengan sangat matang sehingga setiap hari yang aku lalui menjadi terarah walaupun terkadang ada hal-hal yang menjadi mimpi itu belum terwujud, tapi aku bahagiah karena aku dapat mengatur hidup ku dengan sangat menyenangkan. Untuk pagi ini rute yang aku ambil pada jalan-jalan pagi kali ini tidak seperti biasanya karena seluruh bagian tubuh ku masih terasa capek. Maklum 2 hari yang lalu aku baru sampai di kota yang menurut ku sudah menjadi kota kedua di dalam hidupku, maklum setelah lama aku memanjakaan diri di kampung halaman, akhirnya aku kembali ke kota kedua ku untuk melanjutkan pendidikan yang telah sekitar tiga tahun ini aku melewatkan suka dan duka ku di kota ini. Sungguh liburan yang sangat menyenagkan akhirnya selama dua kali lebaran tidak pulang akhirnya lebaran idul fitri kemarin aku kembali bersama keluargaku yang sangat aku sayangi merayakan hari raya idul fitri, dan yang paling berkesan adalah ketika bertemu dengan sahabat-sahabatku yang belakangan ini tidak lagi ku jumapai. Adapun setelah sampai di kota kedua ku ini akupun tidak sempat istirahat, karena aku ikut membantu familiy yang pada saat itu mengadakan acara pesta pernikahan. Walaupun badan terasa capek dan mata terasa mau copot dan di bagian bawah kelopak mata tampak pelangi yang telah kehilangan warna kecerahnya dan menimbulkan efek 1 warna yang tidak seperti pelangi-pelangi pada umumnya, akan tetapi hatiku tetap merasa senang karena sewaktu diperjalanan kembali ke kota kedua ku ini aku pun bertemu seorang yang selalu dapat membuat ku tersenyum hingga sampai sekarang ini kalau dianlalogikan mungkin dia seperti bidadari surga yang seperti di idam-idamkan para lelaki yang merindukan bidadari surga di dalam mimpinya dan doanya. Bibirkupun masih mengatup-ngatup seperti ikan yang terkait mata pancing oleh seorang nelayan dan hati ku pun terus bernyanyi senandung pujian-pujian merindu dan detak jantung ku seperti dentuman bass drum aliran musik metalika. Tak terasa langka kakiku pun hampir sampai menuju rumah besar dengan halaman yang dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang sangat rindang. Rumah itu merupakan kos-kosan yang telah dua tahun ini aku tempati. Rumah besar itu terdapat sejumlah kamar-kamar yang disekat dan dikelilingi suasana natural alam yang sangat terjaga keasriannya. Setiap tapak aku melangkahkan kaki ku dan tak bosan-bosanya aku memikiran wajah manis itu. Pikiran kumelayang dan masih selalu tertuju pada senyuman manis yang ketika itu pada pertemuan pertama dengannya aku mencoba untuk melihat indah wajahnya. Ketika itu dirinya menatap ku dengan tatapan mata yang sungguh mengisyaratkan penantian dan jutaan harapan yang sangat alami. Senyuman manis yang ia layangkan pada diriku sungguh senyuman yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam. oOooohhh,…. Sungguh indahnya jika mengingat semua hal itu, apalagi mengingat ketika aku memegang lembut tangannya, seakan hanya dialah bidadari yang selama ini aku cari dari dalam mimpiku dan doaku.
Oktober telah berlalu dan berarti sudah 1 bulan aku menjalani hubungan dengan bidadari ku walaupun hanya lewat pesan singkat dan suara lembut lewat perantara telepon genggam, akan tetapi isyarat hatiku pun merasakan bahwa dia adalah seorang yang dapat membuat hatiku terbang menembus atmosfer dan mengelilingi pelanet-pelanet dan melayang diantara pelanet-planet kecil di angkasa. Sungguh menakjubkan, kekuatan cinta dapat merobohkan akal sehat, dapat membuat mati jasad yang hidup, dapat menyembuhkan sakit fisik dan mental, dapat memberikan motivasi dan inspirasi baru dalam melangkah hidup ini. Itulah yang aku rasakan sekarang. Memang ketika membicarakan masalah cinta tidak ada habisnya. Cinta,…cinta,.. cinta,…. Sesungguhnya kata ini sering dibicarakan orang-orang. Baik itu pengertiannya, ruang lingkupnya dan seperti apa wujud cinta itu? Sebenarnya apa sih cinta itu? Apa cinta itu seperti makanan? yang ketika lapar terasa enak dan sangat nikmat. Dan ketika kenyang kenikmatan itu akan hilang dengan sendirnya? Kalau begitu cinta merupakan sesuatu yang dapat kita rasakan sekejap dan akan hilang dimakan waktu dan usia ketika apa yang kita rasakan hilang? Kalau begitu sungguh kejam kalau ada yang mempunyai pendapat yang seperti itu tentang cinta. Menurut aku cinta itu indah, pahit, kejam, senang, bahagiah, kesedihan, motifasi, inspirasi dan misteri. Berbagai macam rasa menjadi satu yang menciptakan suatu daya, kekuatan yang terkonstruksi di dalam hati dan sulit untuk dideskripsikan dengan tulisan, lisan dan lukisan.
Begitulah cinta yang begitu besar terkonstruksi di dalam hati ku yang membentuk dan mengukir sebuah nama yang hanya aku sendiri yang dapat melihat dan merasakan suka, duka, manis, pahit, bahagia, sedih di dalam diriku sendiri. 1 bulan telah berlalu setelah pertemuan dengan dirinya, selama itu akupun sering mencoba meraba-raba akan kepribadianya untuk mendekatkan emosionalnya, ya menurut ku hanya dengan jalan ini seseorang dapat menjalin hubungan yang sangat erat dan terjaga ketika hubungan emosionalnya ikut terjaga, dan semua itu dapat terjaga jika komunikasi, keterbukaan dan rasa saling percaya akan keduanya. Mungkin itu salah satu resep ampuh untuk menjaga hubungan keharmonisan. Dan aku masih sangat ingat ketika di malam yang cukup sunyi hati ku sepontan terus berbisik lirih dengan selalu menyebut namanya, jantungku sepontan meledak tak tertahankan dan pikiran ini menjelmah menjadi sosok proyektor yang menciptakan sosok gambar nyata walaupun hanya berupa hologram yaitu dirinya. Mataku terpejam oleh kenikmatan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, tangan ku terasa tak berdaya karena getaran yang sangat hebat sehingga untuk memegang benda-benda di seklilingku tak dapat aku gapai. Ku coba untuk kembali tenang, menghirup udara panjang dan mencoba untuk menenagkan semua anggota tubuh ku. 5 menit telah berlalu. Dan aku pun mengambil sebuah telepon genggam ku dan menulis sebuah sms “ehm,… kenapa ya me, ko hari ini aku rasanya ada sedikit yang mengganjal di hatiku? Gimana kalau ganjelan itu aku lepas aja? Bissmilahirahmanirahim,….’ume aku sayang kamu’ ” Alhamdullilah akhirnya yang menjadi isyarat hati yang terpendam selama jutaan tahun akhirnya terbebaskan. Duuhhh,..suatu hal yang paling menyenangkan dalam dunia asmara adalah ketika mengungkapkan suatu perasaan yang telah lama terpendam akan tetapi tak ada daya untuk melepaskan isyarat hati itu. Mungkin kalau saya analogikan seperti sebuah fosil yang selama jutaan tahun terkubur dari gelapnya timbuanan tanah yang sekejap akan lebih bermakna ketika terkubur selama jutaan tahun dan ketika fosil itu keluar menjadi sesuatu yang sangat istimewa dan bermakna dan menjadi suatu saksi waktu dalam keindahan sejarah di masa lalu. kRing,…krIng,…. Tersentak akupun membuyarkan semua khayalan ku karena mendengar bunyi telepon genggam ku berbunyi, ku lihat di layar tertulis “panggilan ‘uMe’ ” ume merupakan panggilan yang dapat lebih mendekatkan hubungan emosional di antara kami berdua, kalau di bilang alasanya kenapa aku memberikan sebuah nama itu? Alasan pertama adalah aku ingin lebih mendewasakan dia dan ingin menyayanginya lebih dari diriku sendiri. Dan alasan yang kedua adalah karena memang nama itu secara sepontan telah terukir untuknya di dalam hati ku untuk selamanya walaupun dia sendiri terkadang belum bisa menafsirkan sebuah hati yang sebenarnya tulus mencintainya.
Bersambung,…….
Sabtu, 07 Maret 2009
kumpulan sinopsis 10 novel pilihan
MERAHNYA MERAH
Karya : Iwan Simatupang
A. Sinopsis
Merahnya merah adalah suatu novel yang menggambarkan tokoh kita, di dalam suatau komunitas gelandangan di sebuah kota besar. Sejarah tokoh kita sewaktu sebelum meletusnya revolusi fisik adalah seorang laki-laki calon rahib, dia merupakan seorang komandan, diakhir revolusi dia adalah seorang algojo pemacung kepala kepada pengkhianat-pengkhianat yang tertangkap dan sesudah revolusi dan sesudah revolusi dia masuk rumah sakit jiwa.
Kehadiran tokoh kita dalam komunitas kaum gelandangan itu cukup mendapat perhatian para anggota gelandangan dia cukup dianggap, dihormati dan dicintai oleh beberapa diantara penghuni dalam komunitas itu. Maria adalah seoarang yang mempunyai perhatian terhadap tokoh kita. Masa lalu Maria lumayan seram, bahkan dia pernah diperkosa. Marai yang dalam komunitas itu dianggap ibu dari para ibu ini, adalah seorang wanita setengah baya. Wanita ini sebelumnya mempunyai cita-cita menjadi seorang perawat, namun kaerna takut sama darah cita-citanya itu dia tanam dalam-dalam. Batal menjadi perawat, Maria menjadi pelayan sebuah restoran Katolik.
Hubungan antara tokoh Maria dengan tokoh kita benar-benar mesra sampai akhirnya muncul Fifi, Maria yang awalnya seorang yang murah senyum menjadi uring-uringngan dan pencemburu. Karena tokoh kita terlihat begitu akrab dengan tokoh Fifi, yang membawa tokoh Fifi masuk ke dalam komunitas kaum gelandangn mereka itu adalah si tokoh kita itu.
Fifi gadis berusia empat belas tahun, ia anak yatim piatu yang akhirnya membuat dia menjadi seorang pelacur kelas teri dalam usahanya agar tetap hidup diats dunia yang super ganas ini. Dari awal Maria sudah tidak suka dengan kehadiran Fifi dan tidak menerima kehadiran Fifi dalam komunitas mereka, namun karena dia terua didesak oleh tokoh kita dan dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa kalau tokoh kita yang bebicara, selain mengiyakan apa yang dikehendaki si tokoh kita karena cintanya yang demikian dalam pada si tokoh kita. Suatu hari Fifi menghilang, para gelandangan mencari Fifi kesegala penjuru arah, namun tetap saja gagal dan putus asa. Yang paling merasa kecewa tiap kali pulang, yaitu Pak Centeng. Pak Centeng merasa terhina karena gagal mencari dan menemukan fifi dia malu. Sebab selama ini belum pernah Pak Centeng gagal menjalankan misi. Beberapa hari kemudian giliran tokoh kita yang raib dari kelompok gelandangan itu.
Lagi-lagi Pak Centeng merasa malu dan terhina tak terhingga karena dia gagal lagi menemukan tokoh kita. Yang paling geger adalah ketika Maria juga tiba-tiba menghilang, dia raib seperti Fifi dan tokoh kita. Seluruh Armada telah dikerahkan dalam mencari ketika gelandangan yang raib, tapi nihil lagi. Saat itu pula para komunitas gelandangan kalang kabut mencari kesegenap pelosok kota.
Lagi-lagi yang paling merasa terhina adalah Pak Centeng, sebab bagaimanapun dia merasa martabatnya sebagai centeng yang jagoan telah rendah dimata para centeng yang lain maupun diantara temannya sesama gelandangan. Para polisi juga dikerahkan, sama mereka tak berhasil menemukan ketika manusia yang raib bagaikan tertelan bumi.
Tidak lama kemudian tokoh kita muncul di perkampungan gelandangan dan berbagai pertanyaan dilontarkan pada tokoh kita ini. Ternyata Fifi mati dibunuh Maria, karena iridan cemburu yang berlebihan. Sedangkan Maria masuk biara, mencoba mengakui dosa-dosanya, pada Tuhan dan sekaligus mencoba mengabdikan dirinya pada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan harapan segala kesalahannya bisa simanfaatkan oleh Tuhan penguasa seluruh alam. Para gelandangan terharu dan lega mendengar cerita dari tokoh kita ini, yang disalahkan dalam hal ini adalah tokoh kita, kampung gelandangan aman-aman saja.
Tapi bagi pak Centeng sebaliknya dia sangat marah pada si tokoh kita. Dia mengangap bahwa semua ini tokoh kitalah penyebabnya. Karena sebelum tokoh kita masuk kedalam lingkungan gelandangan ini aman-aman saja. Maria ynag dulunyas kekasih pak Centeng, namun setelah adanya tokoh kita cinta Maria berubah menjadi mencintai tokoh kita dan meninggalkan pak Centeng.
Tapi karena marahnya sama tokoh kita sudah sedemikian besar dan tak tertahankan Pak centeng tidak mau peduli dengan ancaman polisi. Tanpa ampun, golok Pak Centeng diayunkan kebatang leher tokoh kita, sekali tebas, kepala tokoh kita langsung pisah dari badannya. Karena kenekatan pak Centeng akhirnya polisi menembak kepala pak centeng. Mereka berdua tergeletak tak bernyawa dan kedua-duanya dikuburkan dengan upacara militer yang dihadiri pejabat tinggi negara.
B. Makna
Novel Merahnya Merah menggunakan pendekatan yang mempertimbangkan masalah kemasyarakatan. Dalam penelitian sosiologi sastra mempunyai tujuan untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan menyeluruh tentang hubungan sosial timbal-balik antara sastrawan, karya sastra, dan masyarakat.
Dalam novel ini Tokoh Kita adalah pemeran utama yang mempunyai sejarah hidup yang panjang. Sebelum menjadi gelandangan, yaitu sebelum revolusi, dia adalah calon rahib. Pada saat revolusi fisik dia menjadi komandan kompi, dan pada akhir revolusi dia menjadi algojo yang menghukum para pengkhianat revolusi. Akhir revolusi fisik dia adalah pasien rumah sakit jiwa.
Diantara para gelandangan dia dihormati dan juga disegani. Hanya ada seorang saja yang kurang suka akan kehadirannya. Dia adalah si Centeng, seorang jagoan di pemukiman gelandangan. Si Centeng merasa sejak kehadiran Tokoh Kita hubungannya dengan perempuan yang bernama Maria menjadi jauh. Maria semakin dekat dengan Tokoh Kita.
Kedekatan Maria dengan Tokoh Kita menjadi renggang sejak kehadiran Fifi. Fifi adalah seorang tunasusila yang dibawa Tokoh Kita. Fifi semakin dekat dengan Tokoh Kita dan hal itu membuat Maria semakin cemburu. Maria akhirnya membunuh Fifi dan kemudian dia bertaubat menjadi biarawati. Kejadian membuat si Centeng marah dan dia pun membunuh Tokoh Kita. Si Centeng juga meninggal karena dia ditembak polisi pada saat membunuh Tokoh Kita.
Isi novel di atas memberikan contoh bahwa cinta dapat membutakan segalanya. Hanya karena cemburu, cinta dapat menghilangkan nyawa seseorang. Tokoh-tokoh di atas menunjukan bahwa mereka tidak dapat menahan emosinya dan hanya mengutamakan ego masing-masing. Selain itu, novel ini juga menunjukan adanya rasa solidaritas yang tinggi diantara kaum gelandangan yang berada di tempat itu.
KEMARAU
Karya : A.A. Navis
A. Sinopsis
Musim kemarau yang panjang di negara ini membuat para petani berputus asa. Sawah ladang mereka sangat kering karena tidak ada air dan cuaca panas sangat menyengat tubuh. Dengan kemarau seperti itu membuat para petani tidak mau menggarap dan mengairi sawah mereka, malahan mereka bermalas-malasan dan bermain-main kartu saja. Tidak semua petani itu bermalas-malasan ada seorang petani yang tidak ikut bermalas-malasan.
Dia adalah Sutan Duono, walaupun dalam keadaan kemarau panjang ini, ia tetap mengairi sawahnya denagn mengangkat air dari danau yang ada disekitar desa mereka sehingga padinya tetap tumbuh subur. Ia tidak menghiraukan panas matahari yang membakar tubuhnya ia berharap agar para petani di desanya mengikuti perbuatan yang ia lakukan. Ia juga berusaha memberikan ceramah kepada ibu-ibu yang ikut dalam pengajaran di surau desa mereka. Namun tak satupun para petani yang menghiraukan ceramahnya apalagi mengikuti langkah-langkah yang dilakukannya.
Tampaknya, keputusasaan penduduk desa telah sampai pada puncaknya. suatu hari ada seorang bocah kecil bernama Acin yang membantunya mengairi sawah sehingga keduanya saling bergantian mengambil air di danau dan mengairi sawah mereka. Penduduk desa yang melihat kerja sama antara keduanya bukannya mencontoh apa yang mereka lakukan. Melainkan mempergunjingkan dan menyebar fitnah, bahwa Sutan Duano mencoba mencari perhatian Gundam. Ibu si bocah itu, yang memang telah menjadi janda . bahkan seorang janda yang menaruh hati pada Sutan Duano pun kemudian mempercayai gunjingan itu.
Gunjingan itu semakin memanaskan telinga Sutan Duano, tetapi ia tidak menanggapinya dan tetap bersikap tenang. Suatu hari ia menerima telegram dari Masri, anaknya yang sudah dua puluh tahun disia-siakannya. Ia memintanya untuk pergi ke Surabaya. Dalam hatinya ia ingin bertemu dengan anak semata wayangmya itu, namun ia tidak mau meninggalkan si bocah kecil yang masih memerlukan bimbingannya. Setelah mempertimbangkan masak-masak, ia pun memutuskan pergi ke Surabaya. Sementara itu, para penduduk desa merasa kehilangan atas kepergiannya. Apalagi setelah mereka membuktikan bahwa semua saran yang diberikan olehnya memberikan hasil. Mereka menyesal telah salah sangka terhadapnya.
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba, Sutan Duano pun berangkat ke Surabaya namun sesampainya disana, hatinya menjadi hancur ketika bertemu dengan mertua anaknya, ternyata mertua anaknya adalah Iyah mantan istrinya. Ia marah kepada Iyah karena telah menikahkan dua orang yang bersaudara.
Karena marahnya itu, Sutan Duano mengancam akan memberitahukan kepada Masri dan Arni. Namun, Iyah berusaha menghalanginya dengan memukul kepala mantan suaminya itu dengan sepotong kayu. Kalu saja Arni tidak menghalanginya, kemungkinan besar Sutan Duano tidak akan selamat. Melihat mantan suaminya bersimbah darah, Iyah merasa menyesal kemudian ia memberitahukan kepada Arni bahwa Sutan Duano adalah mantan suaminya, betapa terkejutnya Arni mendengarnya, ia kemudian menceritakan hal itu kepada suaminya. Sehingga mereka sepakat untuk berpisah. Tak lama kenudian, Iyah meninggal dunia, sedangkan Sutan Duano pulang ke kampung halamannya dan menikah dengan Gundam.
B. Makna
Novel Kemarau dilihat dari makna semiotik yang menggambarkan masyarakat Minangkabau yang hanya bisa menerima nasib saja. Dalam menghadapi masalah mereka cenderung menerima nasib dan berdoa tanpa adanya usaha.
Hal tersebut digambarkan penulis dengan penduduk desa yang hanya diam saja ketika musim kemarau datang dan membuat sawah mereka kering. Mereka tidak mau berusaha membuat sawah mereka subur tapi malah bermalas-malasan.
Berbeda dengan Sutan Duano, dia tetap berusaha agar padinya tetap bisa hidup. Dia mengambil air dari danau untuk mengairi sawahnya. Sutan Duano berharap agar semua orang mau mengikuti langkahnya. Tapi tak ada satu pun yang mau mengikutinya. Sutan Duano juga dibantu anak kecil bernama Acin. Mereka berdua mengambil air secara bergantian dari danau. Sutan Duano juga sempat memberi ceramah pada penduduk desa dengan tujuan agar petani lain mau mengikuti usahanya. Tapi usahanya itu sia-sia, tak satu pun penduduk yang mau mengikuti langkahnya.
Sutan Duano juga difitnah penduduk desa. Dia dituduh sengaja mencari perhatian Gundam ibu Acin. Sutan Duano tetap tenang menghadapi isu tersebut. Setelah pulang dari Surabaya menengok anaknya, Sutan Duano akhirnya menikah juga dengan Gundam.
Sikap Sutan Duano ini patut untuk ditiru. Dia pantang menyerah dan terus berusaha hingga usahanya itu membuahkan hasil. Setiap orang dalam menghadapi masalah harus selalu bersemangat dan berusaha. Selain berusaha juga harus diiringi dengan doa karena Allah yang akan menentukan hasil dari usaha kita itu.
CANTING
Karya : arswendo Atmowiloto
A. Sinopsis
Seorang pengusaha batik tradisional merek canting di Solo yang bernama Raden Ngabehi Setrokusumo tiba-tiba membuat geger keluarganya. Betapa tidak dia adalah seorang keturunan keraton kaya serta dihormati dan disegani oleh semua orang namun memutuskan untuk menikah dengan wanita yang bukan berasal dari keluarga keraton. Wanita yang hendak dinikahinya bernama Tuginem salah seorang buruh pabrik batik tradisional milik Raden Ngabehi Setrokusumo.
Karena tuginem hanyalah seorang buruh pabrik miskin dan bukan berasal dari keraton, dan bukan pula berasal dari kalangan priyayi seperti Raden Ngabehi Setrokusomo, tetapi pernikahan itu tetap berlangsung meskipun banyak tantangan dan banyak pendapat dari keluarga Raden Ngabehi Setrokusumo.
Rumah tangga Raden Ngabehi Setrokusumo dan tuginem sangat harmonis. Keduanya sama-sama merasakan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tuginem yang merasa mendapat anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa benar-benar mengadipkan dirinya kepada suaminya. Setelah menikah, ia dipanggil Ibu Bei. Secara diam-diam, Ibu Bei membantu usaha batik yang didirikan oleh suaminya. Berkat kerja kerasnya usaha batik merk Canting milik mereka berkembang pesat.
Walaupu Ibu Bei sibuk dalam usaha batik yang dijalankannya tetapi Ibu Bei tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang baik. Dia tetap melayani suami dan keenam anaknya dengan baik, serta keenam anaknya sukses dan dapat membanggakan orang tuanya. Wahyu Dewabrata menjadi dokter, Lintang Dewanti menjadi istri kolonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi insinyur, Wening Dewamurti menjadi dokter yang kemudian menjadi kontraktor yang sukses, serta sibungsu Subandini Dewaputri menjadi sarjana farmasi. Kekuatan Ibu Bei yang sudah tua tidak mampu lafi mengurus usaha batik dan keluarganya, kemampuannya dalam mengurusi para pedagang di pasar klewer Solo mulai menurun, padahal batik Canting mulai mendapat saingan berat dari produk besar dan modern.
Subandini Dewaputri melihat usaha batik Canting milik orang tuanya yang muali menurun, membuat hatinya tergugah untuk mengambil alih usaha tersebut. Dia tidak ingin usaha batik itu hancur namun keinginannya ini ditentang oleh kakanya-kakanya, akibatnya terjadi persilisihan di antara mereka, namun bisa diselesaikan oleh Raden Ngabehi Setrokusomo dengan penuh bijaksana, dan karena penyakitnya tidak lama kemudian Ibu Bei meninggal dunia.
Subandini atau Ni mengambil alih usaha batik itu dengan penuh semangat, dia berusaha melakukan persaingan dengan batik-batik keluaran pabrik-pabrik besar. Namun, ia kalah bersaing. Penjualan batik mereka semakin merosot. Dia merasa frustasi dan akibatnya jatuh sakit, bahkan ia hampir meninggal dunia karena sakitnya sangat parah. Karena sekit itulah timbul kesadaran dalam dirtinya dia mulai memahami mengapa usaha batiknya tak dapat bersaing dengan produk-produk keluaran pabrik. Salah satu penyebabnya adalah masalah merk Canting menjadi Canting Daryono. Dengan nama baru itu Ni meneruskan usaha batik tradisional milik keluarganya.
Keputusan mengubah nama Canting menjadi Canting daryono itu sangat tepat, usaha batik mereka secara perlahan tetapi pasti mulai mampu bersaing di pasaran. Ni tidak menangani usaha itu sendiri, dia dibantu oleh kakak-kakaknya. Batik mereka mulai dikena;l lagi, tidak hanya di dalam negeri namun mulai dilirik oleh turis asing. Sungguh suatu kerja keras yang tiada henti, mereka sekeluarga saling bahu membahu menangani usaha tersebut.
Ni akhirnya meniakh denagn Hermawan, pria pilihan hatinya yang telah lama menunggunya selama gadis itu menangani perusahan keluarganya. Pesta pernikahan mereka diselenggarakan tepat pada hari selamatan setahun menionggalnya Bu Bei, pengelola batik Canting yang paling legendaris dalam keluarga besar Setrokusumo.
B. Makna
Dalam novel CANTING ini ditunjukan bahwa wanita itu sebenarnya tidaklah lemah. Terbukti dalam tokoh Bu Bei, dia adalah seorang wanita yang hebat. Selain menjadi seorang istri yang selalu menjalankan tugasnya dengan baik dia juga membantu suaminya memajukan usahanya, yaitu usaha batik tradisional merk Canting. Usaha yang mereka kerjakan bersama–sama itu akhirnya berkembang pesat dan maju. Walaupun dia membantu suaminya, dia tidak lupa akan kewajibannya sebagai seorang ibu. Keenam anaknya menjadi orang yang sukses.
Selain tokoh Bu Bei ada juga tokoh lain, yaitu Subandini atau akrap dipanggil Ni anak Bu Bei. Ketika melihat pabrik orang tuanya mengalami kemunduran dan Ibunya jatuh sakit dia memutuskan mengambil alih usaha orang tuanya itu. Dengan semangat dia berusaha agar pabrik mereka tidak hancur dan dia berhasil.
Sebagai seorang wanita kita harus bisa mencontoh kedua tokoh tersebut. Tokoh yang mau bekerja keras dan tidak mudah putus asa. Selain itu novel Canting juga mengajarkan pada kita agar tidak melupakan kewajiban sebagai seorang istri yang harus melayani suami dan mengurus rumah. Sesibuk apapun seorang istri harus menyempatkan diri mengurus rumah tangganya.
Dalam tokoh Subandini menunjukan bahwa seorang anak harus berbakti pada kedua orang tuanya. Subandini siap melakukan apapun demi pabrik milik keluarganya. Dalam membangun pabriknya itu Subandini dibantu oleh kakak-kakaknya. Hal ini jelas terlihat bahwa sesama anggota keluarga harus saling membantu.
Tokoh Raden Ngabehi Sastrokusuo adalah tokoh yang bijaksana. Dia bisa mengatasi masalah keluarganya [perselisihan antara keenam anaknya]. Dia adalah seorang yang bijaksana. Sebagai kepala keluarga haruslah bisa bersikap bijaksana dan adil.
Dalam novel Canting ini penulis secara tidak langsung mengangkat citra perempuan. Perempuan tidak lagi dilukiskan sebagai sosok yang lemah dan tertindas melainkan menjadi sosok yang kuat dan hebat. Wanita dan laki-laki mempunyai hak yang sama. Sekarang bukan jamannya lagi wanita selalu ditindas oleh laki-laki. Penulis melihatkan adanya persamaan Gender antara laki-laki dan perempuan dimana hal itu pada saat ini sangat diperlukan untuk menunjukan adanya hak yang sama antara laki-laki dengan perempuan. Novel ini menggunakan pendekatan Feminisme.
SAMAN
Karya : Ayu Utami
A. Sinopsis
Seorang gadis lugu dan cantik bernama Laila mendapat dua kesempatan sekaligus, yang pertama berhubungan dengan pembuatan profil perusahaan Textil Indonesia, sedangkan yang kedua menulis buku tentang pengelolaan minyak di Asia Pasifik atas nama Perrolium Extension Service. Di tempat itu Laila bertemu denagn seorang laki-laki idamannya bernama sihar, Laila bisa bertekuk lutut dihadapan Sihar karena sebelumnya Laila sangat membenci laki-laki dan menganggapnya sebagai musuh. Dipabrik pertambangan ini Sihar beradu mulut denagn salah satu pimpinannya, karena salah satu teman Sihar meninggal di tempat itu dan kejadian itu terjadi karena kesalahan Rosana, salah satu pimpinan perusahaan itu.
Karena kejadian itu Laila menjadi dekat dengan Sihar. Kasus kematian itu diadukan Sihar ke penagdilan dan berkat bantuan Laila yang meminta tolong pada Yasmin Moninska, kasus ini bisa dimenangkan. Karena kedekatannya itu Sihar menjadi kekasih Laila, dari sinilah diketahui bahwa Sihar sudah mempunyai iastri, namun cinta Laila tak juga surut mereka sering bertemu di kantor, Laila juga meminta pertolonagn seorang yang pernah di cintai Laila yaitu Wisanggeni.
Wisanggeni muncul kembali setelah beberapa waktu menghilng. Wisanggeni merubah namanya menjadi Saman yang tak lain adalh pastor gereja, setelah kemenangan kasus ini, Sihar tidak lagi menghubungi Laila, setiap mereka berkencan selalu gagal, apalagi setelah sihar sering mendapat telepon dari orang yang tidak dikenal Sihar selalu mematikan teleponnya. Hal yang paling berat adalah ketika Laila mendenagr bahwa Sihar akan pergi ke Amerika, mereka bersepakat akan bertemu di Central Park, New York. Di sana Laila akan bertempat tinggal di rumah temannya yang bernama Shokuntala. Penantian itupun sia-sia karena Sihar mengajak istrinya, setelah itu, mereka tidak pernah bertemu dan hanya penantian yang kunjung jua yang dirasakan Laila.
B. Makna
Novel SAMAN menggunakan pendekatan Feminisme yang berusaha mengangkat harkat dan martabat perempuan agar bisa sejajar dengan kaum lelaki.
Novel ini menceritakan kehidupan beberapa perempuan yang tidak bisa menjaga harga dirinya. Beberapa tokoh wanitanya terlibat dalam pergaulan bebas, mereka hanya mementingkan kepuasan sesaat saja. Pada saat remaja, mereka sudah mulai berani melakukan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Apa yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang sangat tercela dan melanggar norma agama serta norma kesusilaan.
Hal di atas terbukti dengan sikap Yasmin yang melakukan hubungan dengan Saman. Padahal Yasmin sudah mempunyai seorang suami. Selain Yasmin, Laila juga sama, dia menjalin hubungan dengan Sihar yang sudah mempunyai seorang istri.
Yasmin, Laila, dan Shakuntala mereka telah dibutakan oleh cinta dan nafsu yang besar pula. Karena tidak dapat menahan nafsunya, mereka tarjebak dalam pergaulan bebas.
Untuk menghindari hal-hal seperti di atas seharusnya pendidikan tentang sex perlu ditingkatkan. Melakukan hubungan sebelum menikah adalah haram hukumnya. Mereka tidak memikirkan akibat yang akan mereka dapatkan dari pergaulan bebas itu. Seharusnya mereka bisa menjaga harga dirinya agar tidak dimanfaatkan lelaki dan bisa dihormati serta dihargai lelaki.
Selain tokoh wanitanya, ada seorang tokoh lagi yang bernama Saman. Sebelumnya dia adalah seorang Pastur. Selama menjadi seorang Pastur dia sangat baik kepada semua orang yang berada disekitarnya. Dia selalu membantu orang yang merasa kesulitan walaupun dia sendiri akan merasa sulit. Hal ini terbukti dengan dia membantu penduduk desa yang disuruh pemerintah mengganti tanaman mereka dengan tanaman yang ditetapkan pemerintah. Ketika membantu warga desa, Saman juga sempat ditangkap pemerintah karena dianggap memprovokasi warga agar menolak mengganti tanaman mereka.Setelah kejadian itu dan dia berhasil pergi dari desa, dia mengganti namanya dengan Saman.
Saman adalah sosok Pastur yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Dia rela mengorbankan dirinya demi orang lain yang memerlukan bantuannya. Dalam membantu pun dia juga tidak setengah-setengah dan dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.
KHUTBAH DI ATAS BUKIT
Karya : Kuntowijoyo
A. Sinopsis
Barman seorang pensiunan pegawai negeri, merasa senang ketika anaknya Bobi menganjurkannya untuk mengisi hari tuanya di sebuah vila pegunungan. Pada mulanya Dosi menantunya kurang setuju dengan gagasan itu, terutama karena usia mertuanya sudah mulai uzur. Akan tetapi rupanya faktor usia tidak akan menjadi persoalan, sebab udara pegunungan yang sejuk akan membuat Barman lebih tenang dan tanpa gangguan dari cucu-cucunya. Apalagi anaknya sudah menyanggupi akan menyediakabn seorang perempuan muda yang selalu siap melayani Barman setiap saat. Perempuan muda itu bernama Popi, ia bersedia menjadi istri Barman dan mau hidup jauh dari keramaian bersama suaminya yang sudah tua. Sejak ditinggal istri pertamanya Barman memang merasa kesepian. Lalu kini saat menghabiskan sisa hidupnya, ada sebuah boneka hidup cantik dan menyenangkan.
Dalam banyak hal, kehidupan di pegunungan yang semuanya telah tersedia, membawa sepasang suami istri itu ke alam kebahagiaan, meskipun sebenarnya dalam hal hubungan yang lebih khusus, Barman tak sepenuhnya dapat memberi kebahagiaan. Lelaki itu sudah terlalu tua untuk hubungan seperti itu. Namun demikian popi tak terlalu nurut banyak. Barangkali pengalamna masa lalunya sebagai kupu-kupu malam, cukup membuat perempuan muda itu bersikap arif.
Suatu hari, ketika Barman berjalan-jalan di seputar pegunungan itu, ia bertemu dengan seorang lelaki yang sama tuanya. Lelaki yang mengaku sebagai penjaga bukit itu juga bermaksud hidup dalam kesepian dan meninggalkan sebagai orang yang sudah tak maua peduli dengan kehidupan duniawi. Ia tak mau terikat oleh berbagai keinginan, termasuk juga hasratnya pada perempuan. Dengan demikian, Humam jadi tampak begitu merdeka, bebas berfikir, dan bebas dari keinginan-keinginan. Suatu karakter yang amat bertolak belakang dengan Barman yang masih terbelenggu berbagai kebutuhan fisik dan psikis. Saudara kembar yang masing-masing mempunyai tujuan dan pandangan hidup yang sangat berbeda.
Perjumpaannya dengan Humam lelaki yang dianggapnya aneh itu, membuat Barman mulai memprtanyakan keberdaan dirinya. Makin terkejut lagi, saat ia melihat sahabat barunya itu meninggal. Humam meninggal dalam keadaan damai meskipun ia hidup sendiri dan sepi. Pemandangan tersebut ternyata telah meniggalkan kesan yang dalam bagi Barman. Lebih dari itu muncul pula pemikiran baru dalam dirinya. Mendadak ia merasa begitu bergantung kepada istri mudanya. Dan ia ingin lepas ingin bebas. Ia memang sangat mencintai Popi. Namun, pengalaman barunya dengan Humam, juga tak dapat dilupakannya. Ia ingin melepaskan bebas dari milik kita, maka kita telah membebaskan diri. Inilah kesadaran baru yang mulai diresapi oleh Barman.
Popi bukan tak merasakan perubahan itu. Ia cemas bagaimanapun, perubahan sikap Barman sedikit banyak akan berakibat juga pada kehidupan Popi selanjutnya. Ia mulai merasakan kebahagiaan tersendiri hidup dengan Barman. Ia takut perubahan pada diri suaminya akan berakibat buruk dan merusak kebahagiaannya. Oleh karena itu, untuk menyenangkan suaminya, Popi membiarkan Barman melakukan dan berbuat apa saja sesuai denagn keinginannya, termasuk keinginan lelaki tua itu untuk mengikuti apa yang telah dilakukan Humam.
Barman kini hidup dengan segala kebebasannya. Denagn cara memerdekakan dirinya dari belenggu keinginan-keinginan yang bersifat materi, lelaki tua itu merasakan kedamaian. Ia merasa bahagia. Timbul keinginannya agar orang lain pun mengikuti jejaknya menemukan kebahagiaan sebagaimana yang ia rasakan. Barman lalu mewrtakannya kepada setiap orang. Maka, para penduduk di sekitar pegunungan itu pun berdatanagn meminta petunjuknya. Belakangan, makin banyak orang datang kepadanya, barman justru dihinggapi kebingunan. Ia tak tahu berita apa yang harus disampaikan kepada mereka. Dalam kebingunan itu, akhirnya ia berteriak dengan suara yang amat menyayat hati.
Orang-orang kemudian mencari Barman. Mereka menemukan lelaki tua itu sudah tak bernyawa. Seseoranmg lalu menggotongnya dan membawa jasadnya menuju vila milik almarhum, sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. Mereka kemudian berusaha menemui Popi.
Kemudian Popi meninggalkan vila, dan dia bertemu dengan seorang sopir truk, saat itulah dia menumpahkan hasratnya yang selama ini terpendam. Dan pergi entah kemana.
B. Makna
Dalam novel Khutbah di Atas Bukit terdapat beberapa fenomena kejiwaan yang nampak dalam perilaku tokoh-tokohnya. Novel ini mengisahkan kehidupan seorang tokoh yang bernama Barman. Dia adalah seorang pensiunan diplomat yang ditinggal mati istrinya sejak anaknya Bobi masih kecil. Bobi menyuruh ayahnya itu menghabiskan masa tuanya disebuah bukit. Disana Barman ditemani perempuan cantik bernama Popi. Di bukit itu Barman menghabiskan waktunya dengan Popi yang selalu membuat dia bahagia.
Pada suatu saat Barman berkenalan dengan Humam. Humam mengajarkan banyak hal pada Barman. Ketika Humam meninggal, Barman mendapat warisan rumah Humam. Barman sering menghabiskan waktunya di rumah itu. Barman ingin hidup seperti Humam yang tenang, damai, dan bahagia. Tak lama Barman mempunyai banyak pengikut yang menginginkan kehidupan bahagia.
Barman mengajak para pengikutnya ke atas bukit. Disana dia berbicara pada para pengikutnya bahwa “hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan”. Setelah itu Barman meninggal dan kematian itu mereka anggap sebagai pembebasan yang sempurna.
Novel ini juga membahas masalah wanita. Hal ini dibuktikan dengan tokoh wanitanya yang bernama Popi. Popi dulu adalah seorang tuna susila yang kemudian dia mengabdikan hidupnya pada Barman. Tapi setelah kematian Barman, Popi kembali pada kehidupannya dulu.
Selain Barman dan Popi masih ada lagi tokoh yang bernama Bobi. Dia adalah anak Barman. Bobi adalah anak yang benar-benar berbakti pada Ayahnya. Dia sangat perhatian dan menyayangi Ayahnya. Apapun yang diinginkan Ayahnya selalu dia turuti.
Tokoh Bobi ini menggambarkan betapa sayangnya anak terhadap orang tuanya. Seorang anak yang yang menginginkan orang tuanya merasa tenang dan damai dalam masa tuanya. Selain itu, dia juga seorang anak yang ingin membalas kebaikan Ayahnya selama ini.
RONGGENG DUKUH PARUK
Karya : Ahmad Thohari
A. Sinopsis
Dukuh Paruk seakan-seakan mendapat anugerah nyawa baru, ketika Srintil gadis yatim piatu yang berusia sebelas tahun itu dinobatka menjadi ronggeng. Seluruh penduduknya menyambutnya dengan penuh gembira, sebab dengan begitu menurut mereka cerita Dukuh Paruk sebagai Dukuh ronggeng yang akan kembali menggema.
Padukuhan yang terkenal kering kerontang ini nantinya akan diramaikan lagi denagn berdatangan tamu-tamu dari berbagai penjuru desa, berseliwerannya uang-uang terbang ke atas panggung ronggeng Srintil, ramainya seloroh-seloroh cabul dan sebangsanya, serta silih sikutnya antar pesaing dalam memperebuitkan ronggeng srintil. Atau suasana-suasana gembira lainnya. Bau-bau harum keramatnya Ki Secamenggala pasti akan menyebar kembali menyelimuti Dukuh Paruk.
Orang yang paling berbahagia denga dinobatkannya Srintil sebagai ronggeng adalah kakek neneknya sendiri, Sukarya dan istrinya. Karena dengan dinobatkannya Srintil sebagai seorang ronggeng tentu saja usaha kakek neneknya yang telah mengasuh Srintil, sejak kedua orang tua Srintil meninggal dunia karena keracunan tempe bongkrek tidak lah sia-sia. Dan yang terpenting juga, bahwa tugas mereka menjadi Srintil sebagai seorang calon ronggeng yang seakan sudah mendapat restu dari dukuh ronggeng keramat Ki Secamenggala itu dapat terlaksana dengan baik dan sukses.
Sebaliknya yang terjadi terhadap pemuda Rasus, dia sangat kecewa dan sedih menerima kenyataan Srintil wanita yang sangat ia cintai dinobatkan jadi ronggeng. Sebab apabila srintil menjadi ronggeng, berarti gadis itu menjadi milik semua orang. Setiap orang bebas meniduri Srintil karena memang begitulah kehidupan ronggeng. Maka berarti srintil bukan miliknya sendiri.
Dan tentu saja sebagi ronggeng Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada orang lain, yang jelas akan ditentukan oleh sang dukun ronggeng yaitu Ki Kertareja. Dan Rasus sudah mengetahui siapa pemuda yang akan mendapatkan kesucian Srintil pertama kali, yaitu Dower dan sulam, sebagaimana telah ditentukan oleh dukun Kertaraja. Kedua pemuda inilah yang mendapat giliran pertama, setelah kedua pemuda ini memenangkan semacam sayembara yang telah di tentukan oleh Ki Dukuh Kertareja. Sulam mempersembahkan seringgit uang emas dan pemuda Dower menyerahkan seekor kerbau dan dua rupiah uang perak kepada Ki Kertareja.
Pada suatu malam yang sudah ditentukan oleh Kertareja, dukun ronggeng Dukuh Paruk itu, srintil pun dinobatkan menjadi ronggeng Dukuh Paruk. Secara diam-diam Rasus mengikuti semuanya dari jauh. Srintil di bawa ke makam Ki Secamenggala itu, Srintil dimandikan. Setelah dimandikan, maka Srintil akan menjalankan tahap berikutnya, yaitu menjadi budak kelambu, menyerahkan keperawanannya, kepada pemuda yang telah ditentukan oleh dukun Kertareja, yang tidak lain adalah Sulam dan Dower, dua orang pemuda bajingan dukuh Paruk tersebut.
Tampak kedua pemuda itu bertengkar di samping rumah Dukun Kertareja untuk menentukan siapa diantara mereka yang berhak pertama kali meniduri Srintil. Pertengkaran ini secara diam-diam didengar oleh Rasus. Diam-diam Srintil datang menghampirinya tanpa diduga dan dinaya Srintil meminta pemuda itu untuk menidurinya karena ia sangat membenci Dower dan Sulam, Rasus pun memenuhi permintaan itu. Sebab memang sudah lama dia mendambakan akan hal tersebut. Baru setelah pemuda Rasus selesai menggauli srintil di belakang rumah Kertareja itu barulah pemuda dower dan Sulam Datang.
Sehabis menggauli Srintil orang yang sangat ia cintainya itu Rasus meninggalkan Dukuh Paruk. Dan dia meninggalkan Srintil orang yang paling ia cintai dan sekaligus orang yang sangat ia benci, karena Srintil sudah menjadi ronggeng yang sekaligus akan menjadi milik banyak orang.
Di desa Dawuan, tempat penuda Rasus mengasingkan diri, dia banyak merenuang. Bayangan Srintil sebagai orang bayang-bayang Emaknya yang melebur dalam diri Srintil memintanya untuk menjadi suaminya, maka denagn tegas Rasus menolak. Karena rasus sudah memutuskan bahwa biarlah dia mengalah dan biarlah srintil menjadi milik orang banyak, menjadi ronggeng kebanggaan Dukuh Paruk.
B. Makna
Dalam novel RONGGENG DUKUH PARUK yang juga menggunakan pendekatan Feminisme dan juga mengangkat masalah gender.
Disini mengisahkan seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang akan menjadi ronggeng. Sebelum menjadi ronggeng dia harus menempuh dua syarat yang salah satunya adalah malam bukak klambu.
Malam bukak klambu adalah malam dimana seorang calon ronggeng memberikan keperawanannya pada seorang lelaki yang mampu membayarnya dengan harga mahal. Rasus laki-laki yang dicintai Srintil yang mendapatkannya karena kemauan Srintil.
Novel ini menggambarkan seorang wanita yang bisa dinikmati laki-laki manapun atau perempuan yang menjadi milik semua lelaki. Hal ini sangat bertentangan dengan norma agama dan sosial. Tidak sepantasnya seorang wanita melakukan hal itu dengan lelaki yang bukan suaminya.
Tapi dalam kehidupan di Dukuh Paruk, menjadi seorang ronggeng bukanlah hal yang tabu. Disini menjadi seorang ronggeng adalah suatu kebanggaan tersendiri. Bahkan istri yang suaminya bisa meniduri calon ronggeng pun juga merasa bangga. Dalam Dukuh Paruk tidak mengenal batasan tabu. Perbuatan seksualitas jauh dari nilai sakralitas.
Ronggeng dalam novel ini juga diceritakan tidak boleh menikah dan memiliki keturunan. Hal ini dikarenakan jika rongeng hamil akan mengganggu pekerjaannya. Padahal Srintil sangat menginginkan kedua hal tadi, tapi dia tidak bisa melakukannya. Istri dukun ronggeng telah membuatnya tidak bisa mempunyai keturunan karena dia harus melayani lelaki manapun. Perbuatan istri dukun ini sangatlah tercela. Dia sudah merampas hak orang lain dan membuat orang tersebut menderita. Pada kodratnya seorang wanita itu akan mempunyai keturunan, tapi tidak dengan Srintil. Dia juga ditinggal pergi lelaki yang dia cintai.
KELUARGA PERMANA
Karya : Ramadhan K.H.
A. Sinopsis
Suasana keluarga Permana yang sebelumnya tentram dan damai tiba-tiba berubah menjadi neraka yang menyebabkan penderitaan lahir dan batin bagi anak dan istri Permana. Hal ini terjadi atau sebagai awal penyebabnya adalah yaitu semenjak Permana diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja denagn alasan yang tak jelas. Setelah pemecatan itu berubah menjadi seorang yang kasar dan sering menyiksa anak dan istrinya dengan alasan yang terkadang dibuat-buat. Atau dengan sebuah kesalahan yang tak sewajarnya sampai mendapat hukuman yang berat, namun oleh Permana pelakunya, baik anak maupun istrinya disiksa secara berlebihan.
Selama Permana menjadi penganguran, Saleha istri Permana yang bekerja keras mencari nafkah. Walaupun demikian, ia tidak pernah luput dari siksaan suaminya. Perman merasa tidak berarti sebagai seorang suami dan seorang ayah. Ia merasa malu dan rendah diri sehingga otak jernihnya menjadi buram dan penuh prasangka buruk. Dalam benaknya selalu terbayang bahwa isterinya telah berbuat serong dengan teman sekerjanya. Apabila Saleha mencoba menjelaskan atau membantah denagn kata-kata yang sedikit keras, Permana langsung naik pitam dan menyiksa, menendang, memukul, atau menamparnya. Kalau sudah begitu, hati Saleha menjadi hancur karena usaha keras yang ia lakukan agar dapur tetap mengepul seakan-akan tidak berarti di mata suaminya. Namun ia tetap bertahan menghadapi semua itu karena dia tidak ingin keluarganya menjadi hancur.
Perman juga sering menyiksa anaknya, ida namanya. Terkadang tanpa alasan yang kuat, Ida sering mendapat tamparan, cubitan, serta sabetan rotan berulang-ulang. Akibatnya Ida menjadi seorang yang penakut dan pendiam. Siswa sebuah SMA ini begitu ngeri dan sekaligus benci dengan figur ayah semacam Permana ayahnya itu.
Perilaku kasar permana menjadi berkurang setelah kedatangan Sumarto yang bermaksud kos di rumah mereka. Dengan kehadiran pemuda itu di rumahnya Permana sedikit merasa lega karena memiliki sedikit pemasukan uang bulanan. Sebenarnya yang paling merasa senang atas kehadiran Sumarto adalah Ida. Ida yang selama ini tidak mempunyai teman untuk menceritakan duka nestapa tentang perlakuan ayahnya itu sekarang telah mendapatkan orang yang tepat. Dan mereka pun menjalin hubungan kasih yang mesra malah sampai pernah keduanya hilang kontrol, keduanya melakukan perbuatan yang melanggar larangan agama, mereka berhubungan intim.
Betapa kagetnya Permana dan isterinya ketika pembantunya, Komariah mengatakan kepada mereka bahwa Ida hamil. Perman dan isterinya sepakat untuk menggugurkan kandungan anaknya. Dengan diam-diam Saleha pergi ke seorang dukun dan mendapat ramuan yang haurs diminum oleh anaknya. Setelah minum obat itu Ida merasakan sakit yang luar biasa akhirnya ia dibawa kedokter, dan oleh dokter rahim Ida harus diangkat dan mengakibatkan Ida tidak akan mempunyai keturunan lagi.
Sumarto yang mendengar berita itu merasa bersalah dan akhirnya ia melakukan pengakuan dosa kepada Romo murdianto. Dengan penuh kesabaran Sumarto memberanikan diri pergi ke Bandung untuk meminta maaf kepada keluarga Permana sekaligus melamar Ida. Ida yang merasa bahwa pilihan satu-satunya adalah menikah dengan Sumarto menyetujui untuk berpindah agama suaminya, yaitu agama kristen. Walaupun masih diliputi rasa kebimbanagn yang mendalam akhirnya wanita itu dibaptis oleh Romo Murdianto.
Dengan berat hati Saleha dan suaminya merelakan anaknya menikah dengan Sumarto. Keduanya pun menikah di catatan sipil. Pesta perkawinannya berlangsung secara sederhana dan dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak. Suasana resepsi perkawinan mereka itu begitu kaku. Setelah menikah Ida diboyong ke Jatiwngia kampung halaman suaminya. Di sana Ida mendapat musibah sehingga Ida terpaksa dirawat lagi ke rumah sakit. Suatu malam Ida terburu-buru hendak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, kakinya terantuk meja dekat keran air tersebut sehingga ia terjerembab ke lantai.
Suster yang mendengar ada sesuatu yang terjatuh langsung menghampiri suara tersebut, dan ia melihat Ida tergeletak di lantai, suster rumah sakit itu membisikkan Allahu Akbar Lailahaillalah, sayup-sayup diikuti oleh Ida, setelah itu Ida telah pergi selama-lamanya. Ida dimakamkan dikuburkan dipemakaman katolik sesuai permintaan keluarga Sumarto.
Kematian Ida menyisakan penyeselan Permana yang tak al;ang kepalang. Batinnya hancur. Pikirnnya kacau balau. Dia tidak mau meninggalkan kuburan anaknya. Dan dia menjadi gila.
B. Makna
Novel KELUARGA PERMANA mengandung psikologi sastra. Novel ini menunjukan adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga [KDRT]. Hal tersebut sangat tidak baik dan harus bisa dihindari dalam sebuah rumah tangga. Sebagai kepala keluarga seharusnya bisa bersikap bijaksana dalam kondisi apapun. KDRT juga melanggar HAM. Seorang istri dan anak seharusnya dilindungi dan bukan untuk disiksa atau dianiyaya.
Novel ini menceritakan kisah sebuah keluarga yang dulu sangat bahagia tentram dan damai menjadi neraka yang menyebabkan penderitaan lahir dan batin semenjak sang kepala keluarga kehilangan pekerjaannya. Permana kepala keluarga itu berubah menjadi kasar terhadap anak dan istrinya. Seleha istri Permana, walaupun dia selalu disiksa suaminya dia tetap tegar dan terus berusaha untuk menghidupi keluarganya. Dia bekerja keras demi keutuhan keluarganya walaupun dia juga dituduh suaminya selingkuh. Sosok Saleha adalah sosok seorang istri yang sangat mencintai keluarganya. Demi keutuhan keluarganya dia tetap tegar menghadapi sikap suminya.
Permana juga sering menyiksa anaknya Ida tanpa alasan yang tepat. Ia sering menampar, memukul, dan menyabet Ida dengan rotan. Karena sering dimarahi, Ida menjadi benci dengan ayahnya dan dia pun menjadi anak yang pendiam. Sikap kasar Permana sedikit berkurang ketika seorang pemuda bernama Sumarto datang dan berniat kost di rumahnya. Sumarto dan Ida saling jatuh cinta dan melakukan perbuatan yang dilarang agama. Ida hamil dan Sumarto diusir.
Orang tua Ida sepakat untuk menggugurkan kandungan Ida dan bayi yang dikandung Ida meninggal setelah Ida dibawa ke rumah sakit karena meminum obat dari seorang dukun. Sumarto kemudian datang dan berniat menikahi Ida. Keduanya menikah dan Ida mengikuti agama suaminya yaitu Kristen. Mereka berdua tinggal di Jatiwangi. Saat di Jatiwangi Ida sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit itu Ida meninggal. Dia dikebumikan di pemakaman Katolik atas permintaan keluarga Sumarto karena dia telah di baptis sebelum menikah dulu.
SENJA DI JAKARTA
Karya : Mochtar Lubis
A. Sinopsis
Raden kaslan memanfaatkan kedudukannya dalam anggota dewan partai Indonesia ketika Husin Limbara, ketua Partai Indonesia memintanya untuk menangani penyediaan dana pemilu partainya. Ia mengatur agar partai mendapat dana. Caranya dengan mendirikan perusahaan-perusahaan fiktif yang akan menangani lisensi impor barang-barang kebutuhan pokok rakyat. Istri raden Kuslan, Fatma, dan anak tunggalnya, Suryono, anak tiri Fatma, masing-masing menjabat direktur perusahaan-perusahaan fiktif tersebut. Tak ketinggalan, Husin Limbara dan teman-teman separtai memperoleh jabatan direktur bermacam-macam nama perusahaan.
Suryono sebenarnya adalah pegawai pada Kementrian Luar Negeri yang baru saja pulang dari dinas di luar negeri. Atas desakan ayahnya, ia berhenti sebagai pegawai negeri dan kemudian berkecimpung dalam bisnis yang ditangani ayahnya. Ia yang ketika pulang mengeluh terus karena fasilitas yang diberikan kementriannya, kini menjadi kaya raya dan menjabat direktur beberapa perusahaan.
Di sisi lain, Suryono dikenal sebagai playboy. Intim dengan wanita-wanita kesepiaan seperti Dahlia pelacur-pelacur kelas atas dan tidak ketinggalan dengan ibu tirinya sendiri yaitu Fatma.
Pegawai jujur seperti Idris yang tak mau ikut arus zaman harus menerima ketidak puasan istrinya, Dahlia yang selalu menuntut kebutuhan materi. Tanpa sepengetahuan suaminya, Dahlia melayani Suryono yang memnerikan kepuasan materi dan biologis saaat idris tak ada di rumah. Hal ini juga menimpa Sugeng, pegawai Kementrian perekonomian, yang selalu dituntut oleh istrinya agar mendapatkan rumah secepatnya. Namun, Sugeng tidak seperti Idris yang teguh memegang prinsip pegawai negeri, ia turut ambil bagian dalam bisnis yang ditangani Raden Kaslan sesuai dengan jabatannya.
Pada saat orang-orang seperti Raden Kaslan, Suryono, Husin Limbara, dan kawan-kawannya mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya, rakyat jelata hidup dalam kesusahan. Orang-orang seperti Saimun dan Itam yang berkerja sebagai tukang sampah. Pak ijo, kusir tua dan istrinya, selalu dalam bayang-bayang kelaparan. Juga Neneng yang terpaksa melacurkan diri agar bisa memperoleh sesuap nasi. Mereka sama sekali tidak diperhatikan oleh orang macam Raden Kaslan dan kawan-kawannya, yang selalu digembar-gemborkan dalam kampanye bahwa mereka berjuang untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya.
Sementara itu, sekelompok orang yang selalu dengan bangga menyebut dirinya budayawan, tidak henti-hentinya mengadakan diskusi, berdebat, dan masing-masing mau menang sendiri membela konsep yang diajukan. Mereka seakan lupa pada rakyat yang harus mengantri beras, minyak, garam, dan kebutuhan pokok lainnya. Mereka lupa pada rakyat yang harus mempertahankan hidup dengan segala cara, bahkan tak segan membunuh orang untuk menyambung hidup. Bahkan, di antara mereka terjadi gontok-gotntokan.
Keadaan Jakarta makin bertambah kacau dengan adanya berita di koran-koran oposisi, yang membongkar kecurangan oknum-oknum partai yang berkuasa dalam mengumpulkan dana. Koran-koran opsisi menelanjangi partai-partai yang memegang pemerintahan dengan menyebut nama-nama yang terlibat dalam perusahaan-perusahaan fiktif yang memegang lisensi impor. Meskipun koran-koran pemerintah membantah isu tersebut pemerintah tetap saja tak dapat bertahan. Akhirnya, kepala negara membubarkan kabinet dan memerintahkan pengusutan terhadap isu lisensi impor tersebut.
Suasana tak menentu seperti yang terjadi di Jakarta, dimanfaatkan dengan baik oleh orang yang mempunyai sifat bunglon, salah satu di antaranya adalah Halim. Pada saat partai Indonesia berkuasa, Halim memihak partai tersebut. Ia memperoleh sejumlah besar uang untuk surat kabar yang dipimpinnya. Tentu saja, sebagian besar masuk ke kantongnya dan mendapat hadiah dari Partai Indonesia menjadi an ggota parlemen. Ketika Partai Indonesia menjadi anggota parlemen. Ketika Partai Indonesia tak kuat menahan serangan aposisi, Halim berpihak pada oposisi dan berbalik menyerang partai yang dahulu memberi fasilitas kepadanya.
Buntut peristiwa terbongkarnya bisnis lisensi impor. Raden Kaslan mendapat panggilan dari pihak yang berwajib. Sugeng ditangkap polisi di rumahnya, sedangkan Suryono bersama ibu tirinya, Fatma, bermaksud kabur. Namun di kawasan Puncak, mobil mereka mengalami kecelakaan. Suryono mengalami luka berat dan terpaksa dirawat di rumah sakit Bogor. Fatma sendiri yang selamat dan kembali ke Jakarta.
B. Makna
Dalam novel Senja di Jakarta mengandung adanya keserakahan. Tokoh-tokohnya merasa tidak puas dengan kehidupan yang mereka terima. Sebagai contoh adalah Surono, putra Raden Kaslan. Sebelum menjadi direktur Surono bekerja sebagai pegawai kementrian luar negri. Tapi karena dia merasa tidak puas dengan pekerjaannya itu dia memutuskan untuk menerima tawaran untuk menjadi direktur.
Tidak hanya Surono saja yang menjadi direktur di perusahaan itu. Seorang pegawai negri yang bernama Sugeng juga menjadi direktur. Istri Sugeng selalu menuntut Sugeng untuk memenuhi kebutuhan materi yang melebihi kemampuannya. Sehingga Sugeng langsung menyetujui ketika dia ditawari menjadi seorang direktur. Mereka semua hidup dalam kemewahan.
Tapi tidak dengan pegawai negri lain yang bernama Idris. Dia tidak tergiur dengan tawaran menjadi direktur dan tetap bekerja sebagai pegawai negri walaupun istrinya selalu menuntut meteri yang berlebihan.
Tokoh-tokoh di atas adalah contoh dari orang-orang yang tidak bersyukur atas apa yang sudah mereka terima sebelumnya dan hanya mementinkan kemewahan. Orang yang serakah dan tidak pernah merasa puas. Mereka juga melupakan keadaan di luar mereka. Mereka tidak memperhatikan orang miskin yang berusaha keras agar bisa tetap hidup. Mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri.
Kebahagiaan yang dirasakan Raden Kaslan dan orang-orang yang terlibat dalam perusahaan fiktif itu tidak berlangsung lama. Karena ada suatu masalah mereka ditangkap pihak kepolisian.
Cerita ini mengajarkan pada kita agar tidak serakah terhadap apapun. Selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita terima adalah suatu hal yang baik. Kemewahan tidak akan kekal, apalagi jika melupakan lingkungan sekitarnya dan tidak memenuhi kewajiban atas hartanya.
Para priyayi
Karya: Umar Kayam
A. Sinopsis
Wage tinggal di Desa Wandawas sejak dalam kandungan ia telah menjadi anak yatim. Kehidupan Desa Wandawas yang diliputi kemiskinan sehingga membentuk Wage yang berkeperibadian yang lugu dan penurut, ketika berusia enam tahun ibunya menyerahkan Wage kekeluarga Sastrodarsono Yang tinggal dijalan setenon dikota Wonogalih keluaga Sastrodarsono adalah keluarga Priyayi. Sastrodarsono merupakan seorang guru. Semenjak tinggal disana Wage pun mengalami kenaiakn status yaitu sebagai keluarga Priyayi. walaupun Wage hanyalah anak titipan, namun Sastrodarsono selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Oleh Sastrodarsono nama Wage diganti menjadi Lantip karena nama tersebut dipandang lebih bermakna dan lebih pantas untuk hidup dilingkungan Priyayi.
Banyak peristiwa suka dan duka pun yang dirasakan oleh Lantip di keluarga Sastrodarsono. Dimulai dari kenyatan pahit disaat meninggal ibunya, Ia pun mengetahui bahwa ayahnya mempunyai hubungan dengan keluarga Sastrodarsono. Namun ayahnya bukanlah seorang Priyayi, mengingat disaat ayahnya meninggal dengan membawa nama buruk. Yang merupakan gembong perampok. Namun dengan adanya keluarga Sastrodarsono pun Lantip mulai merasakan suatu kebahgiaan.
Lantip sangt bahagia tinggal dikeluarga Sastrodarsono, dimana keluarga tersebut dikenal dengan keluarga yang saling menghormati. Sastrodarsono memiliki tiga orang anak. anak pertama dari Sastrodarsono adalah Nugroho, Nugroho pun dikenal dengan anak yang sangt patuh kepada orang tuanya dan dia pun telah menyelesaikan sekolah dan menjadi seorang guru. Nugroho mempunyai dua orang anak, kemelut yang terjadi pada masa kekuasaan jepang merubah garis hidup Nugroho yang Ia jalani, Nugroho diangkat menjadi opsir tentara Republik yang ikut andil secara langsung pada setiap peperangan pada masa itulah Nugroho menerima nasib yang tragis karena kematian anaknya yang pertama, anak kedua Sastrodarsono adalah Hardjo, Ia seperti halnya Nugroho dia telah berhasil menyelesaikan sekolah dan menjadi seorang guru dan dia tinggal di desa Wonogiri. Hardjo menikah dengan Sumarti anak muridnya sendiri dan Ia dikarunia satu orang anak yang bernama Harimurti. anak ketiga Sastrodarsono adalah Sumini seperti halnya dengan yang lain dia pun dapat menyelesaikan sekolahnya dan menjadi seorang guru. Sastrodarsono merawat dan memelihara anak-anaknya dan sebagai seorang periyayi ia juga merawat anak-anak saudaranya.
Lantip pun terkadang merasa terasingkan karena derajatnya yang dulunya bukan dari keluarga priyayi sehingga sering kali Ia diremehkan oleh anak-anaknya Sastrodarsono, adapun Nugroho yang sering memberikan kesan negatif ke Lantip akan tetapi seiring berjalannya waktu nugroho pun dibuat terkesima karena Lantip dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan di keluarganya.
B. Makna
Di dalam Novel para Priyayi ini saya mencoba menganalisis dengan menggunakan pendekatan Psikologi Sastra dan Pendekatan Strata Social and Culture.
Dari cerita diatas menggambarkan sejumlah keragaman beban psikis yang dialami seorang Wage yang merupakan salah satu tokoh utama dalam novel ini. Di dalam novel ini menceritakan perjuangan Wage dalam menjawab tantangan kehidupan tanpa mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Pada saat dia masih di dalam kandungan dia telah ditinggal oleh ayahnya karena diduga ayahnya adalah seorang perampok. Tidak sampai disitu bahkan Wage pada usia enam tahun dia dititpkan kepada seorang Priyayi dan dia pisah dengan Ibunya. Walaupun secara sosial Wage mengalami suatu proses naiknya derajat karena telah diasuh oleh keluarga Priyayi dan seketika itu nama Wage di ganti dengan nama Lantip. akan tetapi secara emosional Lantip masih menyimpan suatu beban batin atas kurangnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang seharusnya tercurah dari orang tuanya. Akan tetapi karena kurangnya mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya Lantip pun terbentuk menjadi seseorang yang berkeperibadian pendiam dan lugu.
Ketika melihat dari Pendekatan Strata Social and Culture di dalam novel ini kita dapat melihat adanya suatu kesenjangan sosial yang dialami pada masa itu, dari kesenjangan antara keluarga Priyayi dengan keluarga yang bukan Priyayi atau rakyat biasa, sehingga dalam cerita ini menggambarkan jelas kedudukan Sosial didalam kebudayaan tersebut. Adapun dapat kita lihat pada cerita tersebut kedudukan Priyayi jauh diatas tingkatannya dan secara tidak langsung dapat memberikan suatu deskrimanasi dan memberikan suatu batasan-batasan pada Hak dan Martabat manusia selaku mahluk sosial.
Ayat-ayat Cinta
Karya: Habiburahman EL Sihrazy
A. Sinopsis
Ada seorang pemuda yang berasal dari negara Indonesia yang mempunyai keinginan untuk bersekolah di universitas tertua di dunia yang letaknya berada di delta Nil yang sebenarnya untuk bersekolah ke delta Nil itu orang tuanya harus menjual sawah yang sebenarnya warisan dari kakeknya. Akan tetapi dengan keterbatasan tersebut ia dapat menyongsong masa hidupnya dengan mandiri sehingga menjadikan hidupnya bahgia, pemuda itu tidak lain adalah Fahri tokoh utama dalam novel ini. Fahri merupakan orang yang sangat di sayangi para sahabatnya dan di lingkungannya karena setiap perilaku dan aktivitas yang ia kerjakan selalu dicermatinya dan berdasarkan refrensi dari kitab-kitab dan ulama, sehingga jarang yang memperlakukannya seperti memperlakukan musuh. Di Mesir fahri tinggal di sebuah flat yang terbilang sederhana bersama teman-temannya yang berasal dari Indonesia, walaupun di dalam flat yang terbilang sederhana mereka tidaklah mengeluh dan bersedih melainkan mereka sangat bahgia dan harmonis, mereka saling bahu –membahu saling memberikan sesuatu yang terbaik untuk flatnya atau tempat tinggal mereka dan tidak pula mereka membagi tugas dalam berbagi pekerjaan dan tanggung jawab tentang pekerjaan rumah. Adapun yang tinggal diflat itu adalah hamdi, rudi, misbah, saiful. Saiful dan rudi baru tingakat tiga dan mau masuk ketingkat empat, Sedangkan Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar Lc. atau Licence. Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei sampai awal Juni yang lalu. Tinggal menunggu hasil ujiannya pada bulan Agustus. Adapun fahri sekarang tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di Al Azhar. Hari demi hari selalu dilewati dengan sangat terkontrol sehingga dalam pekerjaan yang akan dihadapinya sepuluh tahun mendatang pun sudah direncanakan dengan baik, karena fahri terinspirasi dari kata-kata “Hidup tanpa tujuan tidak akan membuat Kemajuan walaupun jalan yang ditempuhnya jalan yang mudah, akan tetapi hidup dengan tujuan akan membuat kemajuan walaupun jalan yang ditempuh dengan sulit” dan pada akhirnya fahri pun menikahi seorang wanita yang bernama aisyah yang berlatar belakang keluarga konglomerat, dengan ayah berdarah jerman dan seorang ibunya berdarah palestina, mereka pun hidup bahgia namun hal yang sangat teragis adalah orang-orang yang menyukai fahri tiba-tiba jadi berubah mereka tidak lain adalah wanita-wanita yang dulu menyukai fahri akan tetapi mereka malu untuk menunjukan rasa sukanya kepada fahri,.
Pertama adalah Noura adalah seorang wanita mesir yang malang yang selalu disiksa oleh keluarganya yang akhirnya di tolong oleh fahri karena fahri pun merasa iba melihat wanita yang disiksa, dan akhirnya noura pun bebas dari penderitaannay dan menemui suatu keabadian ketika para dokter menyatakan bahwa badrun bukan orang tua asli Noura, namun kebaikan fahri di balas denagn suatu penghinaan hingga fahri dimasukan kedalam penjara karena dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap Noura hingga hamil. Yang kedua adalah Maria gadis cerdas yang beragama katolik yang hafal denagn surat maria, maria mempunyai kepribadian yang manja, akan tetapi dia sangat cerdas, menurut keterangan orangtuanya maria adalah gadis pemalu. Namun ketika mendengar bahwa fahri telah menikah maria pun jadi jatuh sakit hingga tak sadarkan diri, menurut keterangan dokter maria sakit diagnosa yaitu sakit karena frustasi, dan para dokter menyarankan bahwa maria bisa sembuh kalau mendengar seseorang yang sangat disayangnya ia adalah fahri, walaupun pada akhirnya maria pun meninggal dunia, akan tetapi sebelum maria meninggal dunia fahri pun telah menikahinya itu pun pada awalnya ditolak oleh fahri akan tetapi itu semua adalah idenya aisyah istri fahri yang pertama, aisyah menyarankan ide itu karena nasib fahri ada di tangan maria karena setelah noura mengajukan surat peecehan seksual terhadap fahri kepengadilan, fahri pun tidak dapat berbuat apa-apa, karena hanya maria saksi hidup yang dapat menyatakan bahwa dirinya tak bersalah.
B. Makna
Novel Ayat-ayat Cinta merupakan novel yang sangat kreatif dan memberiakn suatu Inspirasi lewat berbagai mcam pesan dan pelajaran yang dapat diambil, ketika membaca novel tersebut, ketika membaca novel tersebut secara eksplisit kita dapat menikmati dan mendapat pengetahuan tentang suasana keindahan kota mesir, dari cuaca yang sangat panas dan di akhir tahun cuaca dingin, dan berbagai macam adat istiadat kebudayan masyarakat mesir dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Dan yang tidak ketinggalan dari inti novel tersebut adalah berupa pelajaran moral yang sangat ditanam denagn mendasari dari Al-Quran dan Al hadis, pengarang lewat sosok fahri berhasil membidik pembaca dalam memperlihatkan atau mendeskripsikan tingkah laku sosok nabi Muhammad lalu diimplementasikan dalam wujud keseharian fahri dalam mengarungi bahtera kehidupan. Sosok fahri sangat memberikan suatu nilai tambah karena perilaku dan dari berbagai macam pelajaran dari cerita tersebut dapat di selesaikan walaupun semua itu yang dijalani dengan usaha yang gigih. Dalam novel tersebut yang banyak lebih tampak adalah pesan-pesan moral yang khendak disampaikan pengarang kepada pembaca bahwa untuk mencapai suatu hasil yang maksimal haruslah denagn suatu usaha yang kuat. Disamping itu novel ini juga menyisipkan aroma-aroma cinta, maksudnya bagaimana caranya agar sesorang saling mencintai dan di sayangi, bagaimana caranya disayangi atau mencintai menurut syariat Islam, novel ini beraroma percintaan yang diatur dan ditata dengan agama, sehingga dapat dirasakan manfaat yang dapat diambil dari novel ini dan pengetahuan tentang pola kebudayaan masyarakat mesir. Sehingga novel ini merupakan Novel multi normatif. Pendekatan multi normatif adalah berbagai mcam norma yang terkumpul jadi satu yang semuanya membentuk suatu keharmonisan dan saling keterkaitan didalam karya sastra.
Karya : Iwan Simatupang
A. Sinopsis
Merahnya merah adalah suatu novel yang menggambarkan tokoh kita, di dalam suatau komunitas gelandangan di sebuah kota besar. Sejarah tokoh kita sewaktu sebelum meletusnya revolusi fisik adalah seorang laki-laki calon rahib, dia merupakan seorang komandan, diakhir revolusi dia adalah seorang algojo pemacung kepala kepada pengkhianat-pengkhianat yang tertangkap dan sesudah revolusi dan sesudah revolusi dia masuk rumah sakit jiwa.
Kehadiran tokoh kita dalam komunitas kaum gelandangan itu cukup mendapat perhatian para anggota gelandangan dia cukup dianggap, dihormati dan dicintai oleh beberapa diantara penghuni dalam komunitas itu. Maria adalah seoarang yang mempunyai perhatian terhadap tokoh kita. Masa lalu Maria lumayan seram, bahkan dia pernah diperkosa. Marai yang dalam komunitas itu dianggap ibu dari para ibu ini, adalah seorang wanita setengah baya. Wanita ini sebelumnya mempunyai cita-cita menjadi seorang perawat, namun kaerna takut sama darah cita-citanya itu dia tanam dalam-dalam. Batal menjadi perawat, Maria menjadi pelayan sebuah restoran Katolik.
Hubungan antara tokoh Maria dengan tokoh kita benar-benar mesra sampai akhirnya muncul Fifi, Maria yang awalnya seorang yang murah senyum menjadi uring-uringngan dan pencemburu. Karena tokoh kita terlihat begitu akrab dengan tokoh Fifi, yang membawa tokoh Fifi masuk ke dalam komunitas kaum gelandangn mereka itu adalah si tokoh kita itu.
Fifi gadis berusia empat belas tahun, ia anak yatim piatu yang akhirnya membuat dia menjadi seorang pelacur kelas teri dalam usahanya agar tetap hidup diats dunia yang super ganas ini. Dari awal Maria sudah tidak suka dengan kehadiran Fifi dan tidak menerima kehadiran Fifi dalam komunitas mereka, namun karena dia terua didesak oleh tokoh kita dan dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa kalau tokoh kita yang bebicara, selain mengiyakan apa yang dikehendaki si tokoh kita karena cintanya yang demikian dalam pada si tokoh kita. Suatu hari Fifi menghilang, para gelandangan mencari Fifi kesegala penjuru arah, namun tetap saja gagal dan putus asa. Yang paling merasa kecewa tiap kali pulang, yaitu Pak Centeng. Pak Centeng merasa terhina karena gagal mencari dan menemukan fifi dia malu. Sebab selama ini belum pernah Pak Centeng gagal menjalankan misi. Beberapa hari kemudian giliran tokoh kita yang raib dari kelompok gelandangan itu.
Lagi-lagi Pak Centeng merasa malu dan terhina tak terhingga karena dia gagal lagi menemukan tokoh kita. Yang paling geger adalah ketika Maria juga tiba-tiba menghilang, dia raib seperti Fifi dan tokoh kita. Seluruh Armada telah dikerahkan dalam mencari ketika gelandangan yang raib, tapi nihil lagi. Saat itu pula para komunitas gelandangan kalang kabut mencari kesegenap pelosok kota.
Lagi-lagi yang paling merasa terhina adalah Pak Centeng, sebab bagaimanapun dia merasa martabatnya sebagai centeng yang jagoan telah rendah dimata para centeng yang lain maupun diantara temannya sesama gelandangan. Para polisi juga dikerahkan, sama mereka tak berhasil menemukan ketika manusia yang raib bagaikan tertelan bumi.
Tidak lama kemudian tokoh kita muncul di perkampungan gelandangan dan berbagai pertanyaan dilontarkan pada tokoh kita ini. Ternyata Fifi mati dibunuh Maria, karena iridan cemburu yang berlebihan. Sedangkan Maria masuk biara, mencoba mengakui dosa-dosanya, pada Tuhan dan sekaligus mencoba mengabdikan dirinya pada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan harapan segala kesalahannya bisa simanfaatkan oleh Tuhan penguasa seluruh alam. Para gelandangan terharu dan lega mendengar cerita dari tokoh kita ini, yang disalahkan dalam hal ini adalah tokoh kita, kampung gelandangan aman-aman saja.
Tapi bagi pak Centeng sebaliknya dia sangat marah pada si tokoh kita. Dia mengangap bahwa semua ini tokoh kitalah penyebabnya. Karena sebelum tokoh kita masuk kedalam lingkungan gelandangan ini aman-aman saja. Maria ynag dulunyas kekasih pak Centeng, namun setelah adanya tokoh kita cinta Maria berubah menjadi mencintai tokoh kita dan meninggalkan pak Centeng.
Tapi karena marahnya sama tokoh kita sudah sedemikian besar dan tak tertahankan Pak centeng tidak mau peduli dengan ancaman polisi. Tanpa ampun, golok Pak Centeng diayunkan kebatang leher tokoh kita, sekali tebas, kepala tokoh kita langsung pisah dari badannya. Karena kenekatan pak Centeng akhirnya polisi menembak kepala pak centeng. Mereka berdua tergeletak tak bernyawa dan kedua-duanya dikuburkan dengan upacara militer yang dihadiri pejabat tinggi negara.
B. Makna
Novel Merahnya Merah menggunakan pendekatan yang mempertimbangkan masalah kemasyarakatan. Dalam penelitian sosiologi sastra mempunyai tujuan untuk mendapatkan gambaran yang lengkap dan menyeluruh tentang hubungan sosial timbal-balik antara sastrawan, karya sastra, dan masyarakat.
Dalam novel ini Tokoh Kita adalah pemeran utama yang mempunyai sejarah hidup yang panjang. Sebelum menjadi gelandangan, yaitu sebelum revolusi, dia adalah calon rahib. Pada saat revolusi fisik dia menjadi komandan kompi, dan pada akhir revolusi dia menjadi algojo yang menghukum para pengkhianat revolusi. Akhir revolusi fisik dia adalah pasien rumah sakit jiwa.
Diantara para gelandangan dia dihormati dan juga disegani. Hanya ada seorang saja yang kurang suka akan kehadirannya. Dia adalah si Centeng, seorang jagoan di pemukiman gelandangan. Si Centeng merasa sejak kehadiran Tokoh Kita hubungannya dengan perempuan yang bernama Maria menjadi jauh. Maria semakin dekat dengan Tokoh Kita.
Kedekatan Maria dengan Tokoh Kita menjadi renggang sejak kehadiran Fifi. Fifi adalah seorang tunasusila yang dibawa Tokoh Kita. Fifi semakin dekat dengan Tokoh Kita dan hal itu membuat Maria semakin cemburu. Maria akhirnya membunuh Fifi dan kemudian dia bertaubat menjadi biarawati. Kejadian membuat si Centeng marah dan dia pun membunuh Tokoh Kita. Si Centeng juga meninggal karena dia ditembak polisi pada saat membunuh Tokoh Kita.
Isi novel di atas memberikan contoh bahwa cinta dapat membutakan segalanya. Hanya karena cemburu, cinta dapat menghilangkan nyawa seseorang. Tokoh-tokoh di atas menunjukan bahwa mereka tidak dapat menahan emosinya dan hanya mengutamakan ego masing-masing. Selain itu, novel ini juga menunjukan adanya rasa solidaritas yang tinggi diantara kaum gelandangan yang berada di tempat itu.
KEMARAU
Karya : A.A. Navis
A. Sinopsis
Musim kemarau yang panjang di negara ini membuat para petani berputus asa. Sawah ladang mereka sangat kering karena tidak ada air dan cuaca panas sangat menyengat tubuh. Dengan kemarau seperti itu membuat para petani tidak mau menggarap dan mengairi sawah mereka, malahan mereka bermalas-malasan dan bermain-main kartu saja. Tidak semua petani itu bermalas-malasan ada seorang petani yang tidak ikut bermalas-malasan.
Dia adalah Sutan Duono, walaupun dalam keadaan kemarau panjang ini, ia tetap mengairi sawahnya denagn mengangkat air dari danau yang ada disekitar desa mereka sehingga padinya tetap tumbuh subur. Ia tidak menghiraukan panas matahari yang membakar tubuhnya ia berharap agar para petani di desanya mengikuti perbuatan yang ia lakukan. Ia juga berusaha memberikan ceramah kepada ibu-ibu yang ikut dalam pengajaran di surau desa mereka. Namun tak satupun para petani yang menghiraukan ceramahnya apalagi mengikuti langkah-langkah yang dilakukannya.
Tampaknya, keputusasaan penduduk desa telah sampai pada puncaknya. suatu hari ada seorang bocah kecil bernama Acin yang membantunya mengairi sawah sehingga keduanya saling bergantian mengambil air di danau dan mengairi sawah mereka. Penduduk desa yang melihat kerja sama antara keduanya bukannya mencontoh apa yang mereka lakukan. Melainkan mempergunjingkan dan menyebar fitnah, bahwa Sutan Duano mencoba mencari perhatian Gundam. Ibu si bocah itu, yang memang telah menjadi janda . bahkan seorang janda yang menaruh hati pada Sutan Duano pun kemudian mempercayai gunjingan itu.
Gunjingan itu semakin memanaskan telinga Sutan Duano, tetapi ia tidak menanggapinya dan tetap bersikap tenang. Suatu hari ia menerima telegram dari Masri, anaknya yang sudah dua puluh tahun disia-siakannya. Ia memintanya untuk pergi ke Surabaya. Dalam hatinya ia ingin bertemu dengan anak semata wayangmya itu, namun ia tidak mau meninggalkan si bocah kecil yang masih memerlukan bimbingannya. Setelah mempertimbangkan masak-masak, ia pun memutuskan pergi ke Surabaya. Sementara itu, para penduduk desa merasa kehilangan atas kepergiannya. Apalagi setelah mereka membuktikan bahwa semua saran yang diberikan olehnya memberikan hasil. Mereka menyesal telah salah sangka terhadapnya.
Hari yang dinanti-nantikan pun tiba, Sutan Duano pun berangkat ke Surabaya namun sesampainya disana, hatinya menjadi hancur ketika bertemu dengan mertua anaknya, ternyata mertua anaknya adalah Iyah mantan istrinya. Ia marah kepada Iyah karena telah menikahkan dua orang yang bersaudara.
Karena marahnya itu, Sutan Duano mengancam akan memberitahukan kepada Masri dan Arni. Namun, Iyah berusaha menghalanginya dengan memukul kepala mantan suaminya itu dengan sepotong kayu. Kalu saja Arni tidak menghalanginya, kemungkinan besar Sutan Duano tidak akan selamat. Melihat mantan suaminya bersimbah darah, Iyah merasa menyesal kemudian ia memberitahukan kepada Arni bahwa Sutan Duano adalah mantan suaminya, betapa terkejutnya Arni mendengarnya, ia kemudian menceritakan hal itu kepada suaminya. Sehingga mereka sepakat untuk berpisah. Tak lama kenudian, Iyah meninggal dunia, sedangkan Sutan Duano pulang ke kampung halamannya dan menikah dengan Gundam.
B. Makna
Novel Kemarau dilihat dari makna semiotik yang menggambarkan masyarakat Minangkabau yang hanya bisa menerima nasib saja. Dalam menghadapi masalah mereka cenderung menerima nasib dan berdoa tanpa adanya usaha.
Hal tersebut digambarkan penulis dengan penduduk desa yang hanya diam saja ketika musim kemarau datang dan membuat sawah mereka kering. Mereka tidak mau berusaha membuat sawah mereka subur tapi malah bermalas-malasan.
Berbeda dengan Sutan Duano, dia tetap berusaha agar padinya tetap bisa hidup. Dia mengambil air dari danau untuk mengairi sawahnya. Sutan Duano berharap agar semua orang mau mengikuti langkahnya. Tapi tak ada satu pun yang mau mengikutinya. Sutan Duano juga dibantu anak kecil bernama Acin. Mereka berdua mengambil air secara bergantian dari danau. Sutan Duano juga sempat memberi ceramah pada penduduk desa dengan tujuan agar petani lain mau mengikuti usahanya. Tapi usahanya itu sia-sia, tak satu pun penduduk yang mau mengikuti langkahnya.
Sutan Duano juga difitnah penduduk desa. Dia dituduh sengaja mencari perhatian Gundam ibu Acin. Sutan Duano tetap tenang menghadapi isu tersebut. Setelah pulang dari Surabaya menengok anaknya, Sutan Duano akhirnya menikah juga dengan Gundam.
Sikap Sutan Duano ini patut untuk ditiru. Dia pantang menyerah dan terus berusaha hingga usahanya itu membuahkan hasil. Setiap orang dalam menghadapi masalah harus selalu bersemangat dan berusaha. Selain berusaha juga harus diiringi dengan doa karena Allah yang akan menentukan hasil dari usaha kita itu.
CANTING
Karya : arswendo Atmowiloto
A. Sinopsis
Seorang pengusaha batik tradisional merek canting di Solo yang bernama Raden Ngabehi Setrokusumo tiba-tiba membuat geger keluarganya. Betapa tidak dia adalah seorang keturunan keraton kaya serta dihormati dan disegani oleh semua orang namun memutuskan untuk menikah dengan wanita yang bukan berasal dari keluarga keraton. Wanita yang hendak dinikahinya bernama Tuginem salah seorang buruh pabrik batik tradisional milik Raden Ngabehi Setrokusumo.
Karena tuginem hanyalah seorang buruh pabrik miskin dan bukan berasal dari keraton, dan bukan pula berasal dari kalangan priyayi seperti Raden Ngabehi Setrokusomo, tetapi pernikahan itu tetap berlangsung meskipun banyak tantangan dan banyak pendapat dari keluarga Raden Ngabehi Setrokusumo.
Rumah tangga Raden Ngabehi Setrokusumo dan tuginem sangat harmonis. Keduanya sama-sama merasakan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tuginem yang merasa mendapat anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa benar-benar mengadipkan dirinya kepada suaminya. Setelah menikah, ia dipanggil Ibu Bei. Secara diam-diam, Ibu Bei membantu usaha batik yang didirikan oleh suaminya. Berkat kerja kerasnya usaha batik merk Canting milik mereka berkembang pesat.
Walaupu Ibu Bei sibuk dalam usaha batik yang dijalankannya tetapi Ibu Bei tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang baik. Dia tetap melayani suami dan keenam anaknya dengan baik, serta keenam anaknya sukses dan dapat membanggakan orang tuanya. Wahyu Dewabrata menjadi dokter, Lintang Dewanti menjadi istri kolonel, Bayu Dewasunu menjadi dokter gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi insinyur, Wening Dewamurti menjadi dokter yang kemudian menjadi kontraktor yang sukses, serta sibungsu Subandini Dewaputri menjadi sarjana farmasi. Kekuatan Ibu Bei yang sudah tua tidak mampu lafi mengurus usaha batik dan keluarganya, kemampuannya dalam mengurusi para pedagang di pasar klewer Solo mulai menurun, padahal batik Canting mulai mendapat saingan berat dari produk besar dan modern.
Subandini Dewaputri melihat usaha batik Canting milik orang tuanya yang muali menurun, membuat hatinya tergugah untuk mengambil alih usaha tersebut. Dia tidak ingin usaha batik itu hancur namun keinginannya ini ditentang oleh kakanya-kakanya, akibatnya terjadi persilisihan di antara mereka, namun bisa diselesaikan oleh Raden Ngabehi Setrokusomo dengan penuh bijaksana, dan karena penyakitnya tidak lama kemudian Ibu Bei meninggal dunia.
Subandini atau Ni mengambil alih usaha batik itu dengan penuh semangat, dia berusaha melakukan persaingan dengan batik-batik keluaran pabrik-pabrik besar. Namun, ia kalah bersaing. Penjualan batik mereka semakin merosot. Dia merasa frustasi dan akibatnya jatuh sakit, bahkan ia hampir meninggal dunia karena sakitnya sangat parah. Karena sekit itulah timbul kesadaran dalam dirtinya dia mulai memahami mengapa usaha batiknya tak dapat bersaing dengan produk-produk keluaran pabrik. Salah satu penyebabnya adalah masalah merk Canting menjadi Canting Daryono. Dengan nama baru itu Ni meneruskan usaha batik tradisional milik keluarganya.
Keputusan mengubah nama Canting menjadi Canting daryono itu sangat tepat, usaha batik mereka secara perlahan tetapi pasti mulai mampu bersaing di pasaran. Ni tidak menangani usaha itu sendiri, dia dibantu oleh kakak-kakaknya. Batik mereka mulai dikena;l lagi, tidak hanya di dalam negeri namun mulai dilirik oleh turis asing. Sungguh suatu kerja keras yang tiada henti, mereka sekeluarga saling bahu membahu menangani usaha tersebut.
Ni akhirnya meniakh denagn Hermawan, pria pilihan hatinya yang telah lama menunggunya selama gadis itu menangani perusahan keluarganya. Pesta pernikahan mereka diselenggarakan tepat pada hari selamatan setahun menionggalnya Bu Bei, pengelola batik Canting yang paling legendaris dalam keluarga besar Setrokusumo.
B. Makna
Dalam novel CANTING ini ditunjukan bahwa wanita itu sebenarnya tidaklah lemah. Terbukti dalam tokoh Bu Bei, dia adalah seorang wanita yang hebat. Selain menjadi seorang istri yang selalu menjalankan tugasnya dengan baik dia juga membantu suaminya memajukan usahanya, yaitu usaha batik tradisional merk Canting. Usaha yang mereka kerjakan bersama–sama itu akhirnya berkembang pesat dan maju. Walaupun dia membantu suaminya, dia tidak lupa akan kewajibannya sebagai seorang ibu. Keenam anaknya menjadi orang yang sukses.
Selain tokoh Bu Bei ada juga tokoh lain, yaitu Subandini atau akrap dipanggil Ni anak Bu Bei. Ketika melihat pabrik orang tuanya mengalami kemunduran dan Ibunya jatuh sakit dia memutuskan mengambil alih usaha orang tuanya itu. Dengan semangat dia berusaha agar pabrik mereka tidak hancur dan dia berhasil.
Sebagai seorang wanita kita harus bisa mencontoh kedua tokoh tersebut. Tokoh yang mau bekerja keras dan tidak mudah putus asa. Selain itu novel Canting juga mengajarkan pada kita agar tidak melupakan kewajiban sebagai seorang istri yang harus melayani suami dan mengurus rumah. Sesibuk apapun seorang istri harus menyempatkan diri mengurus rumah tangganya.
Dalam tokoh Subandini menunjukan bahwa seorang anak harus berbakti pada kedua orang tuanya. Subandini siap melakukan apapun demi pabrik milik keluarganya. Dalam membangun pabriknya itu Subandini dibantu oleh kakak-kakaknya. Hal ini jelas terlihat bahwa sesama anggota keluarga harus saling membantu.
Tokoh Raden Ngabehi Sastrokusuo adalah tokoh yang bijaksana. Dia bisa mengatasi masalah keluarganya [perselisihan antara keenam anaknya]. Dia adalah seorang yang bijaksana. Sebagai kepala keluarga haruslah bisa bersikap bijaksana dan adil.
Dalam novel Canting ini penulis secara tidak langsung mengangkat citra perempuan. Perempuan tidak lagi dilukiskan sebagai sosok yang lemah dan tertindas melainkan menjadi sosok yang kuat dan hebat. Wanita dan laki-laki mempunyai hak yang sama. Sekarang bukan jamannya lagi wanita selalu ditindas oleh laki-laki. Penulis melihatkan adanya persamaan Gender antara laki-laki dan perempuan dimana hal itu pada saat ini sangat diperlukan untuk menunjukan adanya hak yang sama antara laki-laki dengan perempuan. Novel ini menggunakan pendekatan Feminisme.
SAMAN
Karya : Ayu Utami
A. Sinopsis
Seorang gadis lugu dan cantik bernama Laila mendapat dua kesempatan sekaligus, yang pertama berhubungan dengan pembuatan profil perusahaan Textil Indonesia, sedangkan yang kedua menulis buku tentang pengelolaan minyak di Asia Pasifik atas nama Perrolium Extension Service. Di tempat itu Laila bertemu denagn seorang laki-laki idamannya bernama sihar, Laila bisa bertekuk lutut dihadapan Sihar karena sebelumnya Laila sangat membenci laki-laki dan menganggapnya sebagai musuh. Dipabrik pertambangan ini Sihar beradu mulut denagn salah satu pimpinannya, karena salah satu teman Sihar meninggal di tempat itu dan kejadian itu terjadi karena kesalahan Rosana, salah satu pimpinan perusahaan itu.
Karena kejadian itu Laila menjadi dekat dengan Sihar. Kasus kematian itu diadukan Sihar ke penagdilan dan berkat bantuan Laila yang meminta tolong pada Yasmin Moninska, kasus ini bisa dimenangkan. Karena kedekatannya itu Sihar menjadi kekasih Laila, dari sinilah diketahui bahwa Sihar sudah mempunyai iastri, namun cinta Laila tak juga surut mereka sering bertemu di kantor, Laila juga meminta pertolonagn seorang yang pernah di cintai Laila yaitu Wisanggeni.
Wisanggeni muncul kembali setelah beberapa waktu menghilng. Wisanggeni merubah namanya menjadi Saman yang tak lain adalh pastor gereja, setelah kemenangan kasus ini, Sihar tidak lagi menghubungi Laila, setiap mereka berkencan selalu gagal, apalagi setelah sihar sering mendapat telepon dari orang yang tidak dikenal Sihar selalu mematikan teleponnya. Hal yang paling berat adalah ketika Laila mendenagr bahwa Sihar akan pergi ke Amerika, mereka bersepakat akan bertemu di Central Park, New York. Di sana Laila akan bertempat tinggal di rumah temannya yang bernama Shokuntala. Penantian itupun sia-sia karena Sihar mengajak istrinya, setelah itu, mereka tidak pernah bertemu dan hanya penantian yang kunjung jua yang dirasakan Laila.
B. Makna
Novel SAMAN menggunakan pendekatan Feminisme yang berusaha mengangkat harkat dan martabat perempuan agar bisa sejajar dengan kaum lelaki.
Novel ini menceritakan kehidupan beberapa perempuan yang tidak bisa menjaga harga dirinya. Beberapa tokoh wanitanya terlibat dalam pergaulan bebas, mereka hanya mementingkan kepuasan sesaat saja. Pada saat remaja, mereka sudah mulai berani melakukan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Apa yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang sangat tercela dan melanggar norma agama serta norma kesusilaan.
Hal di atas terbukti dengan sikap Yasmin yang melakukan hubungan dengan Saman. Padahal Yasmin sudah mempunyai seorang suami. Selain Yasmin, Laila juga sama, dia menjalin hubungan dengan Sihar yang sudah mempunyai seorang istri.
Yasmin, Laila, dan Shakuntala mereka telah dibutakan oleh cinta dan nafsu yang besar pula. Karena tidak dapat menahan nafsunya, mereka tarjebak dalam pergaulan bebas.
Untuk menghindari hal-hal seperti di atas seharusnya pendidikan tentang sex perlu ditingkatkan. Melakukan hubungan sebelum menikah adalah haram hukumnya. Mereka tidak memikirkan akibat yang akan mereka dapatkan dari pergaulan bebas itu. Seharusnya mereka bisa menjaga harga dirinya agar tidak dimanfaatkan lelaki dan bisa dihormati serta dihargai lelaki.
Selain tokoh wanitanya, ada seorang tokoh lagi yang bernama Saman. Sebelumnya dia adalah seorang Pastur. Selama menjadi seorang Pastur dia sangat baik kepada semua orang yang berada disekitarnya. Dia selalu membantu orang yang merasa kesulitan walaupun dia sendiri akan merasa sulit. Hal ini terbukti dengan dia membantu penduduk desa yang disuruh pemerintah mengganti tanaman mereka dengan tanaman yang ditetapkan pemerintah. Ketika membantu warga desa, Saman juga sempat ditangkap pemerintah karena dianggap memprovokasi warga agar menolak mengganti tanaman mereka.Setelah kejadian itu dan dia berhasil pergi dari desa, dia mengganti namanya dengan Saman.
Saman adalah sosok Pastur yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Dia rela mengorbankan dirinya demi orang lain yang memerlukan bantuannya. Dalam membantu pun dia juga tidak setengah-setengah dan dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan.
KHUTBAH DI ATAS BUKIT
Karya : Kuntowijoyo
A. Sinopsis
Barman seorang pensiunan pegawai negeri, merasa senang ketika anaknya Bobi menganjurkannya untuk mengisi hari tuanya di sebuah vila pegunungan. Pada mulanya Dosi menantunya kurang setuju dengan gagasan itu, terutama karena usia mertuanya sudah mulai uzur. Akan tetapi rupanya faktor usia tidak akan menjadi persoalan, sebab udara pegunungan yang sejuk akan membuat Barman lebih tenang dan tanpa gangguan dari cucu-cucunya. Apalagi anaknya sudah menyanggupi akan menyediakabn seorang perempuan muda yang selalu siap melayani Barman setiap saat. Perempuan muda itu bernama Popi, ia bersedia menjadi istri Barman dan mau hidup jauh dari keramaian bersama suaminya yang sudah tua. Sejak ditinggal istri pertamanya Barman memang merasa kesepian. Lalu kini saat menghabiskan sisa hidupnya, ada sebuah boneka hidup cantik dan menyenangkan.
Dalam banyak hal, kehidupan di pegunungan yang semuanya telah tersedia, membawa sepasang suami istri itu ke alam kebahagiaan, meskipun sebenarnya dalam hal hubungan yang lebih khusus, Barman tak sepenuhnya dapat memberi kebahagiaan. Lelaki itu sudah terlalu tua untuk hubungan seperti itu. Namun demikian popi tak terlalu nurut banyak. Barangkali pengalamna masa lalunya sebagai kupu-kupu malam, cukup membuat perempuan muda itu bersikap arif.
Suatu hari, ketika Barman berjalan-jalan di seputar pegunungan itu, ia bertemu dengan seorang lelaki yang sama tuanya. Lelaki yang mengaku sebagai penjaga bukit itu juga bermaksud hidup dalam kesepian dan meninggalkan sebagai orang yang sudah tak maua peduli dengan kehidupan duniawi. Ia tak mau terikat oleh berbagai keinginan, termasuk juga hasratnya pada perempuan. Dengan demikian, Humam jadi tampak begitu merdeka, bebas berfikir, dan bebas dari keinginan-keinginan. Suatu karakter yang amat bertolak belakang dengan Barman yang masih terbelenggu berbagai kebutuhan fisik dan psikis. Saudara kembar yang masing-masing mempunyai tujuan dan pandangan hidup yang sangat berbeda.
Perjumpaannya dengan Humam lelaki yang dianggapnya aneh itu, membuat Barman mulai memprtanyakan keberdaan dirinya. Makin terkejut lagi, saat ia melihat sahabat barunya itu meninggal. Humam meninggal dalam keadaan damai meskipun ia hidup sendiri dan sepi. Pemandangan tersebut ternyata telah meniggalkan kesan yang dalam bagi Barman. Lebih dari itu muncul pula pemikiran baru dalam dirinya. Mendadak ia merasa begitu bergantung kepada istri mudanya. Dan ia ingin lepas ingin bebas. Ia memang sangat mencintai Popi. Namun, pengalaman barunya dengan Humam, juga tak dapat dilupakannya. Ia ingin melepaskan bebas dari milik kita, maka kita telah membebaskan diri. Inilah kesadaran baru yang mulai diresapi oleh Barman.
Popi bukan tak merasakan perubahan itu. Ia cemas bagaimanapun, perubahan sikap Barman sedikit banyak akan berakibat juga pada kehidupan Popi selanjutnya. Ia mulai merasakan kebahagiaan tersendiri hidup dengan Barman. Ia takut perubahan pada diri suaminya akan berakibat buruk dan merusak kebahagiaannya. Oleh karena itu, untuk menyenangkan suaminya, Popi membiarkan Barman melakukan dan berbuat apa saja sesuai denagn keinginannya, termasuk keinginan lelaki tua itu untuk mengikuti apa yang telah dilakukan Humam.
Barman kini hidup dengan segala kebebasannya. Denagn cara memerdekakan dirinya dari belenggu keinginan-keinginan yang bersifat materi, lelaki tua itu merasakan kedamaian. Ia merasa bahagia. Timbul keinginannya agar orang lain pun mengikuti jejaknya menemukan kebahagiaan sebagaimana yang ia rasakan. Barman lalu mewrtakannya kepada setiap orang. Maka, para penduduk di sekitar pegunungan itu pun berdatanagn meminta petunjuknya. Belakangan, makin banyak orang datang kepadanya, barman justru dihinggapi kebingunan. Ia tak tahu berita apa yang harus disampaikan kepada mereka. Dalam kebingunan itu, akhirnya ia berteriak dengan suara yang amat menyayat hati.
Orang-orang kemudian mencari Barman. Mereka menemukan lelaki tua itu sudah tak bernyawa. Seseoranmg lalu menggotongnya dan membawa jasadnya menuju vila milik almarhum, sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. Mereka kemudian berusaha menemui Popi.
Kemudian Popi meninggalkan vila, dan dia bertemu dengan seorang sopir truk, saat itulah dia menumpahkan hasratnya yang selama ini terpendam. Dan pergi entah kemana.
B. Makna
Dalam novel Khutbah di Atas Bukit terdapat beberapa fenomena kejiwaan yang nampak dalam perilaku tokoh-tokohnya. Novel ini mengisahkan kehidupan seorang tokoh yang bernama Barman. Dia adalah seorang pensiunan diplomat yang ditinggal mati istrinya sejak anaknya Bobi masih kecil. Bobi menyuruh ayahnya itu menghabiskan masa tuanya disebuah bukit. Disana Barman ditemani perempuan cantik bernama Popi. Di bukit itu Barman menghabiskan waktunya dengan Popi yang selalu membuat dia bahagia.
Pada suatu saat Barman berkenalan dengan Humam. Humam mengajarkan banyak hal pada Barman. Ketika Humam meninggal, Barman mendapat warisan rumah Humam. Barman sering menghabiskan waktunya di rumah itu. Barman ingin hidup seperti Humam yang tenang, damai, dan bahagia. Tak lama Barman mempunyai banyak pengikut yang menginginkan kehidupan bahagia.
Barman mengajak para pengikutnya ke atas bukit. Disana dia berbicara pada para pengikutnya bahwa “hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan”. Setelah itu Barman meninggal dan kematian itu mereka anggap sebagai pembebasan yang sempurna.
Novel ini juga membahas masalah wanita. Hal ini dibuktikan dengan tokoh wanitanya yang bernama Popi. Popi dulu adalah seorang tuna susila yang kemudian dia mengabdikan hidupnya pada Barman. Tapi setelah kematian Barman, Popi kembali pada kehidupannya dulu.
Selain Barman dan Popi masih ada lagi tokoh yang bernama Bobi. Dia adalah anak Barman. Bobi adalah anak yang benar-benar berbakti pada Ayahnya. Dia sangat perhatian dan menyayangi Ayahnya. Apapun yang diinginkan Ayahnya selalu dia turuti.
Tokoh Bobi ini menggambarkan betapa sayangnya anak terhadap orang tuanya. Seorang anak yang yang menginginkan orang tuanya merasa tenang dan damai dalam masa tuanya. Selain itu, dia juga seorang anak yang ingin membalas kebaikan Ayahnya selama ini.
RONGGENG DUKUH PARUK
Karya : Ahmad Thohari
A. Sinopsis
Dukuh Paruk seakan-seakan mendapat anugerah nyawa baru, ketika Srintil gadis yatim piatu yang berusia sebelas tahun itu dinobatka menjadi ronggeng. Seluruh penduduknya menyambutnya dengan penuh gembira, sebab dengan begitu menurut mereka cerita Dukuh Paruk sebagai Dukuh ronggeng yang akan kembali menggema.
Padukuhan yang terkenal kering kerontang ini nantinya akan diramaikan lagi denagn berdatangan tamu-tamu dari berbagai penjuru desa, berseliwerannya uang-uang terbang ke atas panggung ronggeng Srintil, ramainya seloroh-seloroh cabul dan sebangsanya, serta silih sikutnya antar pesaing dalam memperebuitkan ronggeng srintil. Atau suasana-suasana gembira lainnya. Bau-bau harum keramatnya Ki Secamenggala pasti akan menyebar kembali menyelimuti Dukuh Paruk.
Orang yang paling berbahagia denga dinobatkannya Srintil sebagai ronggeng adalah kakek neneknya sendiri, Sukarya dan istrinya. Karena dengan dinobatkannya Srintil sebagai seorang ronggeng tentu saja usaha kakek neneknya yang telah mengasuh Srintil, sejak kedua orang tua Srintil meninggal dunia karena keracunan tempe bongkrek tidak lah sia-sia. Dan yang terpenting juga, bahwa tugas mereka menjadi Srintil sebagai seorang calon ronggeng yang seakan sudah mendapat restu dari dukuh ronggeng keramat Ki Secamenggala itu dapat terlaksana dengan baik dan sukses.
Sebaliknya yang terjadi terhadap pemuda Rasus, dia sangat kecewa dan sedih menerima kenyataan Srintil wanita yang sangat ia cintai dinobatkan jadi ronggeng. Sebab apabila srintil menjadi ronggeng, berarti gadis itu menjadi milik semua orang. Setiap orang bebas meniduri Srintil karena memang begitulah kehidupan ronggeng. Maka berarti srintil bukan miliknya sendiri.
Dan tentu saja sebagi ronggeng Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada orang lain, yang jelas akan ditentukan oleh sang dukun ronggeng yaitu Ki Kertareja. Dan Rasus sudah mengetahui siapa pemuda yang akan mendapatkan kesucian Srintil pertama kali, yaitu Dower dan sulam, sebagaimana telah ditentukan oleh dukun Kertaraja. Kedua pemuda inilah yang mendapat giliran pertama, setelah kedua pemuda ini memenangkan semacam sayembara yang telah di tentukan oleh Ki Dukuh Kertareja. Sulam mempersembahkan seringgit uang emas dan pemuda Dower menyerahkan seekor kerbau dan dua rupiah uang perak kepada Ki Kertareja.
Pada suatu malam yang sudah ditentukan oleh Kertareja, dukun ronggeng Dukuh Paruk itu, srintil pun dinobatkan menjadi ronggeng Dukuh Paruk. Secara diam-diam Rasus mengikuti semuanya dari jauh. Srintil di bawa ke makam Ki Secamenggala itu, Srintil dimandikan. Setelah dimandikan, maka Srintil akan menjalankan tahap berikutnya, yaitu menjadi budak kelambu, menyerahkan keperawanannya, kepada pemuda yang telah ditentukan oleh dukun Kertareja, yang tidak lain adalah Sulam dan Dower, dua orang pemuda bajingan dukuh Paruk tersebut.
Tampak kedua pemuda itu bertengkar di samping rumah Dukun Kertareja untuk menentukan siapa diantara mereka yang berhak pertama kali meniduri Srintil. Pertengkaran ini secara diam-diam didengar oleh Rasus. Diam-diam Srintil datang menghampirinya tanpa diduga dan dinaya Srintil meminta pemuda itu untuk menidurinya karena ia sangat membenci Dower dan Sulam, Rasus pun memenuhi permintaan itu. Sebab memang sudah lama dia mendambakan akan hal tersebut. Baru setelah pemuda Rasus selesai menggauli srintil di belakang rumah Kertareja itu barulah pemuda dower dan Sulam Datang.
Sehabis menggauli Srintil orang yang sangat ia cintainya itu Rasus meninggalkan Dukuh Paruk. Dan dia meninggalkan Srintil orang yang paling ia cintai dan sekaligus orang yang sangat ia benci, karena Srintil sudah menjadi ronggeng yang sekaligus akan menjadi milik banyak orang.
Di desa Dawuan, tempat penuda Rasus mengasingkan diri, dia banyak merenuang. Bayangan Srintil sebagai orang bayang-bayang Emaknya yang melebur dalam diri Srintil memintanya untuk menjadi suaminya, maka denagn tegas Rasus menolak. Karena rasus sudah memutuskan bahwa biarlah dia mengalah dan biarlah srintil menjadi milik orang banyak, menjadi ronggeng kebanggaan Dukuh Paruk.
B. Makna
Dalam novel RONGGENG DUKUH PARUK yang juga menggunakan pendekatan Feminisme dan juga mengangkat masalah gender.
Disini mengisahkan seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang akan menjadi ronggeng. Sebelum menjadi ronggeng dia harus menempuh dua syarat yang salah satunya adalah malam bukak klambu.
Malam bukak klambu adalah malam dimana seorang calon ronggeng memberikan keperawanannya pada seorang lelaki yang mampu membayarnya dengan harga mahal. Rasus laki-laki yang dicintai Srintil yang mendapatkannya karena kemauan Srintil.
Novel ini menggambarkan seorang wanita yang bisa dinikmati laki-laki manapun atau perempuan yang menjadi milik semua lelaki. Hal ini sangat bertentangan dengan norma agama dan sosial. Tidak sepantasnya seorang wanita melakukan hal itu dengan lelaki yang bukan suaminya.
Tapi dalam kehidupan di Dukuh Paruk, menjadi seorang ronggeng bukanlah hal yang tabu. Disini menjadi seorang ronggeng adalah suatu kebanggaan tersendiri. Bahkan istri yang suaminya bisa meniduri calon ronggeng pun juga merasa bangga. Dalam Dukuh Paruk tidak mengenal batasan tabu. Perbuatan seksualitas jauh dari nilai sakralitas.
Ronggeng dalam novel ini juga diceritakan tidak boleh menikah dan memiliki keturunan. Hal ini dikarenakan jika rongeng hamil akan mengganggu pekerjaannya. Padahal Srintil sangat menginginkan kedua hal tadi, tapi dia tidak bisa melakukannya. Istri dukun ronggeng telah membuatnya tidak bisa mempunyai keturunan karena dia harus melayani lelaki manapun. Perbuatan istri dukun ini sangatlah tercela. Dia sudah merampas hak orang lain dan membuat orang tersebut menderita. Pada kodratnya seorang wanita itu akan mempunyai keturunan, tapi tidak dengan Srintil. Dia juga ditinggal pergi lelaki yang dia cintai.
KELUARGA PERMANA
Karya : Ramadhan K.H.
A. Sinopsis
Suasana keluarga Permana yang sebelumnya tentram dan damai tiba-tiba berubah menjadi neraka yang menyebabkan penderitaan lahir dan batin bagi anak dan istri Permana. Hal ini terjadi atau sebagai awal penyebabnya adalah yaitu semenjak Permana diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja denagn alasan yang tak jelas. Setelah pemecatan itu berubah menjadi seorang yang kasar dan sering menyiksa anak dan istrinya dengan alasan yang terkadang dibuat-buat. Atau dengan sebuah kesalahan yang tak sewajarnya sampai mendapat hukuman yang berat, namun oleh Permana pelakunya, baik anak maupun istrinya disiksa secara berlebihan.
Selama Permana menjadi penganguran, Saleha istri Permana yang bekerja keras mencari nafkah. Walaupun demikian, ia tidak pernah luput dari siksaan suaminya. Perman merasa tidak berarti sebagai seorang suami dan seorang ayah. Ia merasa malu dan rendah diri sehingga otak jernihnya menjadi buram dan penuh prasangka buruk. Dalam benaknya selalu terbayang bahwa isterinya telah berbuat serong dengan teman sekerjanya. Apabila Saleha mencoba menjelaskan atau membantah denagn kata-kata yang sedikit keras, Permana langsung naik pitam dan menyiksa, menendang, memukul, atau menamparnya. Kalau sudah begitu, hati Saleha menjadi hancur karena usaha keras yang ia lakukan agar dapur tetap mengepul seakan-akan tidak berarti di mata suaminya. Namun ia tetap bertahan menghadapi semua itu karena dia tidak ingin keluarganya menjadi hancur.
Perman juga sering menyiksa anaknya, ida namanya. Terkadang tanpa alasan yang kuat, Ida sering mendapat tamparan, cubitan, serta sabetan rotan berulang-ulang. Akibatnya Ida menjadi seorang yang penakut dan pendiam. Siswa sebuah SMA ini begitu ngeri dan sekaligus benci dengan figur ayah semacam Permana ayahnya itu.
Perilaku kasar permana menjadi berkurang setelah kedatangan Sumarto yang bermaksud kos di rumah mereka. Dengan kehadiran pemuda itu di rumahnya Permana sedikit merasa lega karena memiliki sedikit pemasukan uang bulanan. Sebenarnya yang paling merasa senang atas kehadiran Sumarto adalah Ida. Ida yang selama ini tidak mempunyai teman untuk menceritakan duka nestapa tentang perlakuan ayahnya itu sekarang telah mendapatkan orang yang tepat. Dan mereka pun menjalin hubungan kasih yang mesra malah sampai pernah keduanya hilang kontrol, keduanya melakukan perbuatan yang melanggar larangan agama, mereka berhubungan intim.
Betapa kagetnya Permana dan isterinya ketika pembantunya, Komariah mengatakan kepada mereka bahwa Ida hamil. Perman dan isterinya sepakat untuk menggugurkan kandungan anaknya. Dengan diam-diam Saleha pergi ke seorang dukun dan mendapat ramuan yang haurs diminum oleh anaknya. Setelah minum obat itu Ida merasakan sakit yang luar biasa akhirnya ia dibawa kedokter, dan oleh dokter rahim Ida harus diangkat dan mengakibatkan Ida tidak akan mempunyai keturunan lagi.
Sumarto yang mendengar berita itu merasa bersalah dan akhirnya ia melakukan pengakuan dosa kepada Romo murdianto. Dengan penuh kesabaran Sumarto memberanikan diri pergi ke Bandung untuk meminta maaf kepada keluarga Permana sekaligus melamar Ida. Ida yang merasa bahwa pilihan satu-satunya adalah menikah dengan Sumarto menyetujui untuk berpindah agama suaminya, yaitu agama kristen. Walaupun masih diliputi rasa kebimbanagn yang mendalam akhirnya wanita itu dibaptis oleh Romo Murdianto.
Dengan berat hati Saleha dan suaminya merelakan anaknya menikah dengan Sumarto. Keduanya pun menikah di catatan sipil. Pesta perkawinannya berlangsung secara sederhana dan dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak. Suasana resepsi perkawinan mereka itu begitu kaku. Setelah menikah Ida diboyong ke Jatiwngia kampung halaman suaminya. Di sana Ida mendapat musibah sehingga Ida terpaksa dirawat lagi ke rumah sakit. Suatu malam Ida terburu-buru hendak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, kakinya terantuk meja dekat keran air tersebut sehingga ia terjerembab ke lantai.
Suster yang mendengar ada sesuatu yang terjatuh langsung menghampiri suara tersebut, dan ia melihat Ida tergeletak di lantai, suster rumah sakit itu membisikkan Allahu Akbar Lailahaillalah, sayup-sayup diikuti oleh Ida, setelah itu Ida telah pergi selama-lamanya. Ida dimakamkan dikuburkan dipemakaman katolik sesuai permintaan keluarga Sumarto.
Kematian Ida menyisakan penyeselan Permana yang tak al;ang kepalang. Batinnya hancur. Pikirnnya kacau balau. Dia tidak mau meninggalkan kuburan anaknya. Dan dia menjadi gila.
B. Makna
Novel KELUARGA PERMANA mengandung psikologi sastra. Novel ini menunjukan adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga [KDRT]. Hal tersebut sangat tidak baik dan harus bisa dihindari dalam sebuah rumah tangga. Sebagai kepala keluarga seharusnya bisa bersikap bijaksana dalam kondisi apapun. KDRT juga melanggar HAM. Seorang istri dan anak seharusnya dilindungi dan bukan untuk disiksa atau dianiyaya.
Novel ini menceritakan kisah sebuah keluarga yang dulu sangat bahagia tentram dan damai menjadi neraka yang menyebabkan penderitaan lahir dan batin semenjak sang kepala keluarga kehilangan pekerjaannya. Permana kepala keluarga itu berubah menjadi kasar terhadap anak dan istrinya. Seleha istri Permana, walaupun dia selalu disiksa suaminya dia tetap tegar dan terus berusaha untuk menghidupi keluarganya. Dia bekerja keras demi keutuhan keluarganya walaupun dia juga dituduh suaminya selingkuh. Sosok Saleha adalah sosok seorang istri yang sangat mencintai keluarganya. Demi keutuhan keluarganya dia tetap tegar menghadapi sikap suminya.
Permana juga sering menyiksa anaknya Ida tanpa alasan yang tepat. Ia sering menampar, memukul, dan menyabet Ida dengan rotan. Karena sering dimarahi, Ida menjadi benci dengan ayahnya dan dia pun menjadi anak yang pendiam. Sikap kasar Permana sedikit berkurang ketika seorang pemuda bernama Sumarto datang dan berniat kost di rumahnya. Sumarto dan Ida saling jatuh cinta dan melakukan perbuatan yang dilarang agama. Ida hamil dan Sumarto diusir.
Orang tua Ida sepakat untuk menggugurkan kandungan Ida dan bayi yang dikandung Ida meninggal setelah Ida dibawa ke rumah sakit karena meminum obat dari seorang dukun. Sumarto kemudian datang dan berniat menikahi Ida. Keduanya menikah dan Ida mengikuti agama suaminya yaitu Kristen. Mereka berdua tinggal di Jatiwangi. Saat di Jatiwangi Ida sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit itu Ida meninggal. Dia dikebumikan di pemakaman Katolik atas permintaan keluarga Sumarto karena dia telah di baptis sebelum menikah dulu.
SENJA DI JAKARTA
Karya : Mochtar Lubis
A. Sinopsis
Raden kaslan memanfaatkan kedudukannya dalam anggota dewan partai Indonesia ketika Husin Limbara, ketua Partai Indonesia memintanya untuk menangani penyediaan dana pemilu partainya. Ia mengatur agar partai mendapat dana. Caranya dengan mendirikan perusahaan-perusahaan fiktif yang akan menangani lisensi impor barang-barang kebutuhan pokok rakyat. Istri raden Kuslan, Fatma, dan anak tunggalnya, Suryono, anak tiri Fatma, masing-masing menjabat direktur perusahaan-perusahaan fiktif tersebut. Tak ketinggalan, Husin Limbara dan teman-teman separtai memperoleh jabatan direktur bermacam-macam nama perusahaan.
Suryono sebenarnya adalah pegawai pada Kementrian Luar Negeri yang baru saja pulang dari dinas di luar negeri. Atas desakan ayahnya, ia berhenti sebagai pegawai negeri dan kemudian berkecimpung dalam bisnis yang ditangani ayahnya. Ia yang ketika pulang mengeluh terus karena fasilitas yang diberikan kementriannya, kini menjadi kaya raya dan menjabat direktur beberapa perusahaan.
Di sisi lain, Suryono dikenal sebagai playboy. Intim dengan wanita-wanita kesepiaan seperti Dahlia pelacur-pelacur kelas atas dan tidak ketinggalan dengan ibu tirinya sendiri yaitu Fatma.
Pegawai jujur seperti Idris yang tak mau ikut arus zaman harus menerima ketidak puasan istrinya, Dahlia yang selalu menuntut kebutuhan materi. Tanpa sepengetahuan suaminya, Dahlia melayani Suryono yang memnerikan kepuasan materi dan biologis saaat idris tak ada di rumah. Hal ini juga menimpa Sugeng, pegawai Kementrian perekonomian, yang selalu dituntut oleh istrinya agar mendapatkan rumah secepatnya. Namun, Sugeng tidak seperti Idris yang teguh memegang prinsip pegawai negeri, ia turut ambil bagian dalam bisnis yang ditangani Raden Kaslan sesuai dengan jabatannya.
Pada saat orang-orang seperti Raden Kaslan, Suryono, Husin Limbara, dan kawan-kawannya mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya, rakyat jelata hidup dalam kesusahan. Orang-orang seperti Saimun dan Itam yang berkerja sebagai tukang sampah. Pak ijo, kusir tua dan istrinya, selalu dalam bayang-bayang kelaparan. Juga Neneng yang terpaksa melacurkan diri agar bisa memperoleh sesuap nasi. Mereka sama sekali tidak diperhatikan oleh orang macam Raden Kaslan dan kawan-kawannya, yang selalu digembar-gemborkan dalam kampanye bahwa mereka berjuang untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya.
Sementara itu, sekelompok orang yang selalu dengan bangga menyebut dirinya budayawan, tidak henti-hentinya mengadakan diskusi, berdebat, dan masing-masing mau menang sendiri membela konsep yang diajukan. Mereka seakan lupa pada rakyat yang harus mengantri beras, minyak, garam, dan kebutuhan pokok lainnya. Mereka lupa pada rakyat yang harus mempertahankan hidup dengan segala cara, bahkan tak segan membunuh orang untuk menyambung hidup. Bahkan, di antara mereka terjadi gontok-gotntokan.
Keadaan Jakarta makin bertambah kacau dengan adanya berita di koran-koran oposisi, yang membongkar kecurangan oknum-oknum partai yang berkuasa dalam mengumpulkan dana. Koran-koran opsisi menelanjangi partai-partai yang memegang pemerintahan dengan menyebut nama-nama yang terlibat dalam perusahaan-perusahaan fiktif yang memegang lisensi impor. Meskipun koran-koran pemerintah membantah isu tersebut pemerintah tetap saja tak dapat bertahan. Akhirnya, kepala negara membubarkan kabinet dan memerintahkan pengusutan terhadap isu lisensi impor tersebut.
Suasana tak menentu seperti yang terjadi di Jakarta, dimanfaatkan dengan baik oleh orang yang mempunyai sifat bunglon, salah satu di antaranya adalah Halim. Pada saat partai Indonesia berkuasa, Halim memihak partai tersebut. Ia memperoleh sejumlah besar uang untuk surat kabar yang dipimpinnya. Tentu saja, sebagian besar masuk ke kantongnya dan mendapat hadiah dari Partai Indonesia menjadi an ggota parlemen. Ketika Partai Indonesia menjadi anggota parlemen. Ketika Partai Indonesia tak kuat menahan serangan aposisi, Halim berpihak pada oposisi dan berbalik menyerang partai yang dahulu memberi fasilitas kepadanya.
Buntut peristiwa terbongkarnya bisnis lisensi impor. Raden Kaslan mendapat panggilan dari pihak yang berwajib. Sugeng ditangkap polisi di rumahnya, sedangkan Suryono bersama ibu tirinya, Fatma, bermaksud kabur. Namun di kawasan Puncak, mobil mereka mengalami kecelakaan. Suryono mengalami luka berat dan terpaksa dirawat di rumah sakit Bogor. Fatma sendiri yang selamat dan kembali ke Jakarta.
B. Makna
Dalam novel Senja di Jakarta mengandung adanya keserakahan. Tokoh-tokohnya merasa tidak puas dengan kehidupan yang mereka terima. Sebagai contoh adalah Surono, putra Raden Kaslan. Sebelum menjadi direktur Surono bekerja sebagai pegawai kementrian luar negri. Tapi karena dia merasa tidak puas dengan pekerjaannya itu dia memutuskan untuk menerima tawaran untuk menjadi direktur.
Tidak hanya Surono saja yang menjadi direktur di perusahaan itu. Seorang pegawai negri yang bernama Sugeng juga menjadi direktur. Istri Sugeng selalu menuntut Sugeng untuk memenuhi kebutuhan materi yang melebihi kemampuannya. Sehingga Sugeng langsung menyetujui ketika dia ditawari menjadi seorang direktur. Mereka semua hidup dalam kemewahan.
Tapi tidak dengan pegawai negri lain yang bernama Idris. Dia tidak tergiur dengan tawaran menjadi direktur dan tetap bekerja sebagai pegawai negri walaupun istrinya selalu menuntut meteri yang berlebihan.
Tokoh-tokoh di atas adalah contoh dari orang-orang yang tidak bersyukur atas apa yang sudah mereka terima sebelumnya dan hanya mementinkan kemewahan. Orang yang serakah dan tidak pernah merasa puas. Mereka juga melupakan keadaan di luar mereka. Mereka tidak memperhatikan orang miskin yang berusaha keras agar bisa tetap hidup. Mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri.
Kebahagiaan yang dirasakan Raden Kaslan dan orang-orang yang terlibat dalam perusahaan fiktif itu tidak berlangsung lama. Karena ada suatu masalah mereka ditangkap pihak kepolisian.
Cerita ini mengajarkan pada kita agar tidak serakah terhadap apapun. Selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita terima adalah suatu hal yang baik. Kemewahan tidak akan kekal, apalagi jika melupakan lingkungan sekitarnya dan tidak memenuhi kewajiban atas hartanya.
Para priyayi
Karya: Umar Kayam
A. Sinopsis
Wage tinggal di Desa Wandawas sejak dalam kandungan ia telah menjadi anak yatim. Kehidupan Desa Wandawas yang diliputi kemiskinan sehingga membentuk Wage yang berkeperibadian yang lugu dan penurut, ketika berusia enam tahun ibunya menyerahkan Wage kekeluarga Sastrodarsono Yang tinggal dijalan setenon dikota Wonogalih keluaga Sastrodarsono adalah keluarga Priyayi. Sastrodarsono merupakan seorang guru. Semenjak tinggal disana Wage pun mengalami kenaiakn status yaitu sebagai keluarga Priyayi. walaupun Wage hanyalah anak titipan, namun Sastrodarsono selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Oleh Sastrodarsono nama Wage diganti menjadi Lantip karena nama tersebut dipandang lebih bermakna dan lebih pantas untuk hidup dilingkungan Priyayi.
Banyak peristiwa suka dan duka pun yang dirasakan oleh Lantip di keluarga Sastrodarsono. Dimulai dari kenyatan pahit disaat meninggal ibunya, Ia pun mengetahui bahwa ayahnya mempunyai hubungan dengan keluarga Sastrodarsono. Namun ayahnya bukanlah seorang Priyayi, mengingat disaat ayahnya meninggal dengan membawa nama buruk. Yang merupakan gembong perampok. Namun dengan adanya keluarga Sastrodarsono pun Lantip mulai merasakan suatu kebahgiaan.
Lantip sangt bahagia tinggal dikeluarga Sastrodarsono, dimana keluarga tersebut dikenal dengan keluarga yang saling menghormati. Sastrodarsono memiliki tiga orang anak. anak pertama dari Sastrodarsono adalah Nugroho, Nugroho pun dikenal dengan anak yang sangt patuh kepada orang tuanya dan dia pun telah menyelesaikan sekolah dan menjadi seorang guru. Nugroho mempunyai dua orang anak, kemelut yang terjadi pada masa kekuasaan jepang merubah garis hidup Nugroho yang Ia jalani, Nugroho diangkat menjadi opsir tentara Republik yang ikut andil secara langsung pada setiap peperangan pada masa itulah Nugroho menerima nasib yang tragis karena kematian anaknya yang pertama, anak kedua Sastrodarsono adalah Hardjo, Ia seperti halnya Nugroho dia telah berhasil menyelesaikan sekolah dan menjadi seorang guru dan dia tinggal di desa Wonogiri. Hardjo menikah dengan Sumarti anak muridnya sendiri dan Ia dikarunia satu orang anak yang bernama Harimurti. anak ketiga Sastrodarsono adalah Sumini seperti halnya dengan yang lain dia pun dapat menyelesaikan sekolahnya dan menjadi seorang guru. Sastrodarsono merawat dan memelihara anak-anaknya dan sebagai seorang periyayi ia juga merawat anak-anak saudaranya.
Lantip pun terkadang merasa terasingkan karena derajatnya yang dulunya bukan dari keluarga priyayi sehingga sering kali Ia diremehkan oleh anak-anaknya Sastrodarsono, adapun Nugroho yang sering memberikan kesan negatif ke Lantip akan tetapi seiring berjalannya waktu nugroho pun dibuat terkesima karena Lantip dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan di keluarganya.
B. Makna
Di dalam Novel para Priyayi ini saya mencoba menganalisis dengan menggunakan pendekatan Psikologi Sastra dan Pendekatan Strata Social and Culture.
Dari cerita diatas menggambarkan sejumlah keragaman beban psikis yang dialami seorang Wage yang merupakan salah satu tokoh utama dalam novel ini. Di dalam novel ini menceritakan perjuangan Wage dalam menjawab tantangan kehidupan tanpa mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Pada saat dia masih di dalam kandungan dia telah ditinggal oleh ayahnya karena diduga ayahnya adalah seorang perampok. Tidak sampai disitu bahkan Wage pada usia enam tahun dia dititpkan kepada seorang Priyayi dan dia pisah dengan Ibunya. Walaupun secara sosial Wage mengalami suatu proses naiknya derajat karena telah diasuh oleh keluarga Priyayi dan seketika itu nama Wage di ganti dengan nama Lantip. akan tetapi secara emosional Lantip masih menyimpan suatu beban batin atas kurangnya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang seharusnya tercurah dari orang tuanya. Akan tetapi karena kurangnya mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya Lantip pun terbentuk menjadi seseorang yang berkeperibadian pendiam dan lugu.
Ketika melihat dari Pendekatan Strata Social and Culture di dalam novel ini kita dapat melihat adanya suatu kesenjangan sosial yang dialami pada masa itu, dari kesenjangan antara keluarga Priyayi dengan keluarga yang bukan Priyayi atau rakyat biasa, sehingga dalam cerita ini menggambarkan jelas kedudukan Sosial didalam kebudayaan tersebut. Adapun dapat kita lihat pada cerita tersebut kedudukan Priyayi jauh diatas tingkatannya dan secara tidak langsung dapat memberikan suatu deskrimanasi dan memberikan suatu batasan-batasan pada Hak dan Martabat manusia selaku mahluk sosial.
Ayat-ayat Cinta
Karya: Habiburahman EL Sihrazy
A. Sinopsis
Ada seorang pemuda yang berasal dari negara Indonesia yang mempunyai keinginan untuk bersekolah di universitas tertua di dunia yang letaknya berada di delta Nil yang sebenarnya untuk bersekolah ke delta Nil itu orang tuanya harus menjual sawah yang sebenarnya warisan dari kakeknya. Akan tetapi dengan keterbatasan tersebut ia dapat menyongsong masa hidupnya dengan mandiri sehingga menjadikan hidupnya bahgia, pemuda itu tidak lain adalah Fahri tokoh utama dalam novel ini. Fahri merupakan orang yang sangat di sayangi para sahabatnya dan di lingkungannya karena setiap perilaku dan aktivitas yang ia kerjakan selalu dicermatinya dan berdasarkan refrensi dari kitab-kitab dan ulama, sehingga jarang yang memperlakukannya seperti memperlakukan musuh. Di Mesir fahri tinggal di sebuah flat yang terbilang sederhana bersama teman-temannya yang berasal dari Indonesia, walaupun di dalam flat yang terbilang sederhana mereka tidaklah mengeluh dan bersedih melainkan mereka sangat bahgia dan harmonis, mereka saling bahu –membahu saling memberikan sesuatu yang terbaik untuk flatnya atau tempat tinggal mereka dan tidak pula mereka membagi tugas dalam berbagi pekerjaan dan tanggung jawab tentang pekerjaan rumah. Adapun yang tinggal diflat itu adalah hamdi, rudi, misbah, saiful. Saiful dan rudi baru tingakat tiga dan mau masuk ketingkat empat, Sedangkan Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar Lc. atau Licence. Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei sampai awal Juni yang lalu. Tinggal menunggu hasil ujiannya pada bulan Agustus. Adapun fahri sekarang tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di Al Azhar. Hari demi hari selalu dilewati dengan sangat terkontrol sehingga dalam pekerjaan yang akan dihadapinya sepuluh tahun mendatang pun sudah direncanakan dengan baik, karena fahri terinspirasi dari kata-kata “Hidup tanpa tujuan tidak akan membuat Kemajuan walaupun jalan yang ditempuhnya jalan yang mudah, akan tetapi hidup dengan tujuan akan membuat kemajuan walaupun jalan yang ditempuh dengan sulit” dan pada akhirnya fahri pun menikahi seorang wanita yang bernama aisyah yang berlatar belakang keluarga konglomerat, dengan ayah berdarah jerman dan seorang ibunya berdarah palestina, mereka pun hidup bahgia namun hal yang sangat teragis adalah orang-orang yang menyukai fahri tiba-tiba jadi berubah mereka tidak lain adalah wanita-wanita yang dulu menyukai fahri akan tetapi mereka malu untuk menunjukan rasa sukanya kepada fahri,.
Pertama adalah Noura adalah seorang wanita mesir yang malang yang selalu disiksa oleh keluarganya yang akhirnya di tolong oleh fahri karena fahri pun merasa iba melihat wanita yang disiksa, dan akhirnya noura pun bebas dari penderitaannay dan menemui suatu keabadian ketika para dokter menyatakan bahwa badrun bukan orang tua asli Noura, namun kebaikan fahri di balas denagn suatu penghinaan hingga fahri dimasukan kedalam penjara karena dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap Noura hingga hamil. Yang kedua adalah Maria gadis cerdas yang beragama katolik yang hafal denagn surat maria, maria mempunyai kepribadian yang manja, akan tetapi dia sangat cerdas, menurut keterangan orangtuanya maria adalah gadis pemalu. Namun ketika mendengar bahwa fahri telah menikah maria pun jadi jatuh sakit hingga tak sadarkan diri, menurut keterangan dokter maria sakit diagnosa yaitu sakit karena frustasi, dan para dokter menyarankan bahwa maria bisa sembuh kalau mendengar seseorang yang sangat disayangnya ia adalah fahri, walaupun pada akhirnya maria pun meninggal dunia, akan tetapi sebelum maria meninggal dunia fahri pun telah menikahinya itu pun pada awalnya ditolak oleh fahri akan tetapi itu semua adalah idenya aisyah istri fahri yang pertama, aisyah menyarankan ide itu karena nasib fahri ada di tangan maria karena setelah noura mengajukan surat peecehan seksual terhadap fahri kepengadilan, fahri pun tidak dapat berbuat apa-apa, karena hanya maria saksi hidup yang dapat menyatakan bahwa dirinya tak bersalah.
B. Makna
Novel Ayat-ayat Cinta merupakan novel yang sangat kreatif dan memberiakn suatu Inspirasi lewat berbagai mcam pesan dan pelajaran yang dapat diambil, ketika membaca novel tersebut, ketika membaca novel tersebut secara eksplisit kita dapat menikmati dan mendapat pengetahuan tentang suasana keindahan kota mesir, dari cuaca yang sangat panas dan di akhir tahun cuaca dingin, dan berbagai macam adat istiadat kebudayan masyarakat mesir dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Dan yang tidak ketinggalan dari inti novel tersebut adalah berupa pelajaran moral yang sangat ditanam denagn mendasari dari Al-Quran dan Al hadis, pengarang lewat sosok fahri berhasil membidik pembaca dalam memperlihatkan atau mendeskripsikan tingkah laku sosok nabi Muhammad lalu diimplementasikan dalam wujud keseharian fahri dalam mengarungi bahtera kehidupan. Sosok fahri sangat memberikan suatu nilai tambah karena perilaku dan dari berbagai macam pelajaran dari cerita tersebut dapat di selesaikan walaupun semua itu yang dijalani dengan usaha yang gigih. Dalam novel tersebut yang banyak lebih tampak adalah pesan-pesan moral yang khendak disampaikan pengarang kepada pembaca bahwa untuk mencapai suatu hasil yang maksimal haruslah denagn suatu usaha yang kuat. Disamping itu novel ini juga menyisipkan aroma-aroma cinta, maksudnya bagaimana caranya agar sesorang saling mencintai dan di sayangi, bagaimana caranya disayangi atau mencintai menurut syariat Islam, novel ini beraroma percintaan yang diatur dan ditata dengan agama, sehingga dapat dirasakan manfaat yang dapat diambil dari novel ini dan pengetahuan tentang pola kebudayaan masyarakat mesir. Sehingga novel ini merupakan Novel multi normatif. Pendekatan multi normatif adalah berbagai mcam norma yang terkumpul jadi satu yang semuanya membentuk suatu keharmonisan dan saling keterkaitan didalam karya sastra.
Langganan:
Komentar (Atom)